materi kuliah biologi, biologi kesehatan, biologi sel, karakteristik mahluk hidup, klasifikasi mahluk hidup, plantae, animalia dan kerugian dan keuntungan biologi bagi kehidupan

Sunday, 15 January 2017

Sejarah, Pengertian, Ciri-ciri, Struktur dan Cara Reproduksi Virus

Hampir semua di antara kita pernah menderita flu. Flu atau influenza merupakan salah satu penyakit yang disebabkan oleh virus. Selain influenza, berbagai penyakit yang mematikan juga disebabkan oleh virus. Contohnya adalah AIDS dan flu burung. Hal tersebut mendorong manusia untuk terus bekerja keras mempelajari virus guna menemukan obat untuk mengatasi penyakit yang disebabkannya.

 

Sejarah, Pengertian, Ciri-ciri, Struktur dan Cara Reproduksi Virus
Sejarah, Pengertian, Ciri-ciri, Struktur dan Cara Reproduksi Virus

Virus adalah parasit berukuran mikroskopik yang menginfeksi sel organisme biologis. Virus hanya dapat bereproduksi di dalam material hidup dengan menginvasi dan memanfaatkan sel makhluk hidup karena virus tidak memiliki perlengkapan selular untuk bereproduksi sendiri. Dalam sel inang, virus merupakan parasit obligat dan di luar inangnya menjadi tak berdaya. Biasanya virus mengandung sejumlah kecil asam nukleat (DNA atau RNA, tetapi tidak kombinasi keduanya) yang diselubungi semacam bahan pelindung yang terdiri atas protein, lipid, glikoprotein, atau kombinasi ketiganya. Genom virus menjadi baik protein yang digunakan untuk memuat bahan genetik maupun protein yang dibutuhkan dalam daur hidupnya.

Istilah virus biasanya merujuk pada partikel-partikel yang menginfeksi sel-sel eukariota (organisme multisel dan banyak jenis organisme sel tunggal), sementara istilah bakteriofag atau fag digunakan untuk jenis yang menyerang jenis-jenis sel prokariota (bakteri dan organisme lain yang tidak berinti sel). Virus sering diperdebatkan statusnya sebagai makhluk hidup karena ia tidak dapat menjalankan fungsi biologisnya secara bebas. Karena karakteristik khasnya ini virus selalu terasosiasi dengan penyakit tertentu, baik pada manusia (misalnya virus influenza dan HIV), hewan (misalnya virus flu burung), atau tanaman (misalnya virus mosaik tembakau/TMV). Ukurannya sekitar 25-300 mikron. Ukuran virus disebut juga ukuran renik. Oleh sebab itu, virus tidak bisa dilihat dengan mata atau mikroskop biasa, tapi harus menggunakan mikroskop elektron.

A. Asal Mula Penemuan Virus dan Ciri-ciri Virus
Aktivitas manusia yang berlebihan dan diiringi oleh perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi yang canggih telah banyak menimbulkan dampak bagi kehidupan . Dampak tersebut antara lain adalah timbulnya berbagai polusi akibat kegiatan yang menghasilkan sampah, terlebih lagi bila sampah-sampah tersebut tidak di daur ulang. Akibatnya timbullah masalah tersendiri di bidang kesehatan, yaitu banyaknya jenis penyakit yang disebabkan oleh mikroorganisme yang hidup pada sampah.

Berbagai penyakit juga disebabkan oleh aktifitas virus. Umumnya penyakit akibat virus ini lebih susah untuk diatasi. Oleh karena itu, perhatian manusia terhadap virus semakin besar setelah ditemukannya berbagai penyakit yang aneh dan belum pernah ditemukan sebelumnya. berikut adalah contoh beberapa virus penyebab penyakit.

Beberapa contoh virus
Beberapa contoh virus
Virus berasal dari bahasa latin virulae yang artinya ‘menular’. Virus merupakan substansi aseluler  (tubuh tidak berupa sel), karena hanya memiliki kapsid (selubung yang berfungsi sebagai dinding) dan asam nukleat , tetapi tidak memiliki inti sel, sitoplasma, dan membrane sel. Ukuran virus sangat kecil, sehingga disebut juga mikroba  atau mikroorganisme. Di dalam biologi, virus dipelajari lebih mendalam pada cabang ilmu mikrobiologi atau lebih khusus lagi disebut virologi.

1.  Asal Mula Penemuan Virus
Menurut para ahli biologi, virus merupakan substansi atau bentuk peralihan antara benda hidup (makhluk hidup) dan benda mati. Virus disebut benda mati karena virus lebih dominan mempunyai ciri-ciri sebagai benda mati daripada ciri-ciri makhluk hidup. Virus berbentuk seperti molekul atau partikel yang disebut virion. Tetapi virus juga menunjukkan ciri-ciri makhluk hidup karena virus mempunyai materi genetik  berupa asam nukleat yang terdiri dari ADN (Asam Deoksiribo Nukleat) atau ARN (Asam Ribo Nukleat), serta dapat melakukan perkembangbiakan yang dinamakan replikasi.

Sejarah penemuan virus dimulai tahun 1883 oleh ilmuwan Jerman yang bernama Adolf Meyer. Ia melakukan penelitian pada tanaman tembakau. Pada suatu ketika ia menemukan adanya daun tembakau yang tidak normal. Daun tersebut berwarna hijau kekuning-kuningan, yang ternyata setelah diamati, terdapat cairan atau lender. Daun yang mengalami hal demikian menderita penyakit mosaik. Penyakit ini disebabkan oleh mikroorganisme yang kita sebut virus. Penyakit mosaik ini menyebabkan pertumbuhan tembakau menjadi terhambat (kerdil) dan daunnya berwarna belang-belang.
 
Menurut Meyer, penyakit mosaik pada daun tembakau tersebut dapat menular. Hal ini dibuktikan dengan menyemprotkan ekstrak daun tembakau yang telah tertulari penyakit mosaik ke tanaman tembakau yang masih normal (segar). Setelah diamati ternyata daun yang semula normal tersebut menjadi berwarna hijau kekuning-kuningan (berbintik-bintik kuning). Setelah dilakukan penelitian, penyebab penyakit tersebut adalah mikroba yang kecil sekali dan hanya dapat dilihat dengan menggunakan mikroskop elektron.

Penelitian serupa dengan yang dilakukan oleh Meyer tersebut dilakukan kembali oleh Dmitri Ivanovsky. Ia berhasil menemukan filter (alat penyaring) bakteri. Di dalam penelitiannya, Ivanovsky mengoleskan hasil saringan (dari daun tembakau yang telah terkena penyakit mosaik) pada daun tanaman yang sehat. Hasilnya tanaman yang sehat tersebut akhirnya tertular. Ivanovsky menyimpulkan bahwa mikroba penyebab penyakit tersebut adalah mikroba yang bersifat patogen (penyebab penyakit)  yang mempunyai ukuran lebih kecil daripada bakteri, karena mikroba tersebut dapat lolos dari saringan atau filter untuk menyaring bakteri.                   

Selanjutnya, pada tahun 1897, M. Beljerinck, seorang ahli mikrobiologi berkebangsaan Belanda, menemukan fakta bahwa mikroorganisme yang menyerang tembakau tersebut dapat melakukan reproduksi dan tidak dapat dibiakkan pada medium untuk bakteri. Fakta lainnya adalah apabila mikroorganisme tersebut dimasukkan kedalam alkohol, ia tidak mati mati. Tetapi pada waktu itu M. Beijerinck belum berhasi menemukan struktur dan spesies  mikroorganisme tersebut.

Menyusul penemuan Beijerinck, ilmuwan Amerika, Wendell M. Stanlye, pada tahun 1935 berhasil mengkristalkan makhluk hidup yang menyerang tanaman tembakau. Hasil penelitian tersebut menjawab pertanyaan tentang makhluk apa yang menyebabkan penyakit tersebut. Makhluk hidup tersebut kemudian dinamakan  TMV ( Tobacco Mosaic Virus) atau Virus Mosaik Tembakau.  Sampai saaati ini penelitian-penelitian tentang virus dan penyakit-panyakit yang disebabkan oleh virus terus dilakukan dan semakin berkembang.
Virus Tembakau dan Tembakau yang terserang virus
Virus Tembakau dan Tembakau yang terserang virus

2. Ciri – Ciri Virus

Ciri-ciri virus meliputi ukuran, bentuk, struktur dan fungi, cara hidup serta cara reproduksinya.

 

a. Ukuran virus

Ukuran virus berkisar antara 25-300 nm. Virus yang berukuran 25 nm dijumpai pada virus penyebab polio. Sedangkan virus yang berukuran 100 nm misalnya Bakteriofag atau virus T (Bacteriophage atau phage), yaitu virus yang berukuran lebih kurang 300 nm contohnya adalah TMV ( Tobacco Mosaic Virus).

 

Beberapa ukuran virus

Beberapa ukuran virus




b. Bentuk tubuh

Bentuk  tubuh virus sangat bervariasi . Virus yang berbentuk bulat contohnya adalah virus influenza (Influenza virus) dan HIV penyebab AIDS. Virus juga ada yang berbentuk oval, seperti virus rabies (Rabiez virus). Bentuk batang dijumpai pada TMV , bentuk jarum dijumpai pada Tungrovirus (virus penyebab kekerdilan pada batang padi), dan bentuk seperti huruf T dijumpai pada Bakteriofag. Sedangkan bentuk polihedral contohnya adalah pada Adenovirus (penyebab penyakit demam).

 

Beberapa bentuk Virus

Beberapa bentuk Virus

 

c. Struktur dan fungsi

Tubuh virus bukan merupakan sel (aseluler), tidak memiliki inti sel, sitoplasma, dan membran sel, tetapi hanya memiliki kapsid sebagai pelindung luar. Virus berupa partikel (molekul) yang disebut virion. Tubuh virus yang berupa Kristal atau partikel inti lebih menunjukkan ciri mineral daripada ciri kehidupan. Oleh karena itu ada anggapan bahwa virus bukan makhluk hidup.

 

Struktur tubuh virus yang kita gunakan sebagai contoh dalam pembahasan ini adalah struktur tubuh Bakteriofag (virus T). Tubuh virus T terbagi atas bagian kepala dan bagian ekor. Bagian kepala terbungkus oleh suatu selubung dari protein yang disebut kapsid. Kapsid mempunyai fungsi sebagai pemberi bentuk pada virus, dan juga berfungsi sebagai pelindung bagian dalam tubuh virus. Bagian di luar kapsid terdapat selubung yang tersusun dari lipida dan karbohidrat.

 

Struktur tubuh bakteriofag

Struktur tubuh bakteriofag



Di dalam tubuh virus (isi tubuh virus) terdapat materi genetik sederhana yang terdiri dari senyawa asam nukleat yang berupa ADN atau ARN. Bentuk ADN dan ARN tergantung pada spesifikasi virus. Setiap jenis virus hanya memiliki 1 macam molekul materi genetik, yaitu ADN saja atau ARN saja. Materi genetik tersebut dapat berupa rantai ganda yang berpilin atau rantai tunggal, dengan bentuk memanjang, lurus, atau melingkar.


 Materi Genetik (DNA atau RNA saja)

Materi Genetik (DNA atau RNA saja)

Bentuk kapsid pada virus bermacam-macam, ada yang bulat, oval, batang, polihedral, atau seperti huruf T. Pada beberapa virus, misalnya virus flu dan herpes, di luar kapsid masih terdapat struktur tambahan yang berupa kapsul pembungkus atau amplop. Kapsul pembungkus ini berfungsi membantu virus untuk menyerang (menginfeksi) tubuh inang atau hospes, sehingga tubuh inang tersebut menderita suatu penyakit.

 

Struktur Kapsid pada Virus Influensa

Struktur Kapsid pada Virus Influensa



d. Cara hidup

Virus tidak dapat hidup di alam secara bebas, melainkan harus berada didalam sel makhluk hidup yang lain. Berbagai makhluk hidup dapat terserang virus, misalnya manusia, hewan, tumbuhan dan bakteri.

 

Virus yang menginfeksi bakteri disebut sebagai bakteriofag atau disingkat fag. Virus yang menginfeksi manusia dan menyebabkan penyakit pada manusia, misalnya cacar, polio, hepatitis, mata belek, influenza, demam berdarah, diare, ebola, dan AIDS. AIDS disebabkan oleh HIV yang menyerang sistem kekebalan tubuh. Virus yang menginfeksi hewan misalnya yang menyebabkan penyakit sampar pada ayam, anjing gila (rabies), dan penyakit kuku pada ternak. Virus yang menyerang tumbuhan misalnya penyebab penyakit mosaik pada tembakau, kanker pada jeruk, dan busuk pada sayuran.

 

Virus yang menyerang tanaman biasanya ditularkan pada serangga. Serangga yang mengisap atau memakan tanaman yang terkena virus dapat menularkannya ke tanaman lain. Virus yang menyerang manusia dapat ditularkan baik secara kontak langsung maupun tak langsung dengan penderita. Polio dan hepatitis dapat ditularkan melalui air sumur yang tercemar, piring makan, sendok makan, dll. Cacar, mata belek dan polio dapat ditularkan melalui kontak langsung. Demam berdarah ditularkan oleh nyamuk aedes agypti. HIV ditularkan melalui darah, cairan sekresi vagina, semen (ejakulasi), air susu, hubungan kelamin, jarum suntik, dan transfusi darah. Selain itu juga dapat ditularkan melalui plasenta ibu hamil ke janinnya.

 

Virus harus dibiakkan didalam jaringan makhluk hidup. Di laboratorium, virus dapat dibiakkan didalam embrio telur ayam

 

e. Cara berkembang biak

Virus hanya dapat berkembang biak pada sel-sel hidup dan untuk reproduksinya virus hanya memerlukan asam nukleat. Karena dapat melakukan reproduksi, maka virus dianggap sebagai makhluk hidup (organisme).

 

Di dalam proses reproduksi, virus memerlukan lingkungan sel hidup (di dalam jaringan tubuh) sehingga virus memerlukan organisme lain sebagai inang atau hospesnya. Contoh organisme yang menjadi hospes virus adalah bakteri, jaringan embrio, hewan, tumbuhan, dan manusia. Proses reproduksi virus disebut replikasi (penggandaan diri tubuh virus). Proses replikasi virus semenjak menempel pada sel inang sampai terbentuknya virus yang baru melibatkan siklus litik dan siklus lisogenik. 

 

Siklus litik dan lisogenik Bakteriofag

Siklus litik dan lisogenik Bakteriofag

Siklus litik adalah replikasi virus yang disertai dengan matinya sel inang setelah terbentuk anakan virus yang baru. Siklus litik virus yang telah berhasil diteliti oleh para ilmuwan adalah siklus litik virus T (Bacteriophage), yaitu virus yang menyerang bakteri Escherichia coli (bakteri yang terdapat di dalam colon atau usus besar manusia).

 

Siklus litik Bakteriofag terdiri atas 5 fase, yaitu fase adsorbsi, fase penetrasi sel inang, fase eklifase, fase replikasi, dan fase pemecahan sel inang. Berikut penjelasannya.

 

1. Fase Adsorbsi

Pada fase ini, ujung ekor Bakteriofag menempel atau melekat pada bagian tertentu dari dinding sel bakteri yang masih dalam keadaan normal. Daerah itu disebut daerah reseptor (receptor site atau receptor spot). Virus yang menyerang bakteri E. coli, memiliki lisozim (lisozyme) yang berfungsi merusak atau menselubungi dinding sel bakteri.

 

2. Fase injeksi

Pada fase ini, kulit ujung ekor virus T dan dinding sel bakteri E. coli yang telah menyatu tersebut larut hingga terbentuk saluran dari tubuh virus T dengan sitoplasma sel bakteri. Melalui saluran ini ADN virus merusak ke dalam sitoplasma bakteri dan bercampur dengannya.

 

3. Fase eklifase

Pada fase ini, setelah bercampur dengan sitoplasma bakteri, ADN virus mengambili alih kendali ADN bakteri. Pengendalian ini terjadi di dalam proses penyusunan atau sintesis protein di dalam sitoplasma bakteri. Seterusnya ADN virus mengendalikan sintesis protein kapsid virus.

 

4. Fase replikasi (fase sintesis : penyusunan)

Virus baru pada fase ini mulai dibentuk. ADN virus T mengadakan pembentukan atau penyusunan ADN virus yang baru, dengan menggunakan ADN bakteri sebagai bahan materinya, serta membentuk selubung protein kapsid virus. Maka terbentuklah beratus-ratus molekul ADN baru virus yang lengkap dengan selubungnya. Setiap sel bakteri E.coli yang diserang oleh virus T dapat menghasilkan 200-300 virus T yang baru.

 

5. Fase pemecahan sel inang atau litik

Setelah terbentuk virus T yang baru, dinding sel bakteri akan pecah (litik). Selanjutnya sejumlah virus T yang baru tersebut akan keluar dan siap untuk menyerang sel bakteri E.coli yang baru (yang lain).

 

Selain secara litik, reproduksi virus juga bisa terjadi secara lisogenik. Pada siklus lisogenik, ADN atau ARN virus menempel pada kromosom sel inang (membentuk profage) dan mengadakan replikasi. Bedanya dengan siklus litik, pada siklus lisogenik sel inang tidak pecah atau mati, sehingga setiap kali sel inang membelah di dalamnya juga terdapat virus-virus yang berkembangbiak.

 

Daur lisogenik diawali dengan fase adsorbsi, dan injeksi seperti daur litik. Setelah itu, virus masuk ke penggabungan, fase pembelahan, fase sintesis, fase perakitan, dan akhirnya fase litik.
a. Fase Adsorbsi
Uraian sama dengan daur litik
b. Fase Injeksi
Uraian sama dengan daur litik
c. Fase Penggabungan
Ketika memasuki fase injeksi, DNA virus masuk kedalam tubuh bakteri. Selanjutnya, DNA virus menyisip kedalam DNA bakteri atau melakukan penggabungan. DNA bakteri berbentuk sirkuler, yakni seperti kalung yang tidak berujung dan berpangkal. DNA tersebut berupa benang ganda yang berpilin.

Mula-mula DNA bakteri putus, kemudian DNA virus menggabungkan diri diantara benang yang putus tersebut, dan akhirnya terbentuk DNA sirkuler baru yang telah disisipi DNA virus. Dengan kata lain, didalam DNA bakteri terkandung materi genetic virus.

d. Fase Pembelahan
Dalam keadaan tersambung itu, DNA virus tidak aktif, yang dikenal sebagai profag. Oleh karena DNA virus menjadi satu dengan DNA bakteri, maka jika DNA bakteri melakukan replikasi, profag juga ikut melakukan replikasi. Misalnya saja jika bakteri akan membelah diri, DNA bakteri mengopi diri dengan proses replikasi. Dengan demikian, profag juga ikut terkopi. Terbentuklah dua sel bakteri sebagai hasil pembelahan dan dalam setiap sel anak bakteri terkandung profag yang identik. Demikian seterusnya hingga proses pembelahan bakteri berlangsung berulang kali sehingga setiap sel bakteri yang terbentuk didalamnya terkandung profag. Dengan demikian jumlah profag mengikuti jumlah sel bakteri yang ditumpanginya.

e. Fase Sintesis
Oleh karena satu dan lain hal, misalnya karena radiasi atau pengaruh zat kimia tertentu, profag tiba-tiba aktif. Profag tersebut memisahkan diri dari DNA bakteri. Selanjutnya, DNA virus mengadakan sintesis, yakni mensintesis protein untuk digunakan sebagai kapsid bagi virus-virus baru. Selain itu, DNA virus juga melakukan replikasi DNA sehingga DNA virus menjadi banyak.

f. Fase Perakitan
Kapsid-kapsid dirakit menjadi kapsid virus yang utuh, yang berfungsi sebagai selubung virus. Kapsid virus yang terbentuk mecapai 100-200 kapsid baru. Selanjutnya, DNA hasil replikasi masuk ke dalamnya guna membentuk virus-virus baru.

g. Fase Litik
Setelah terbentuk virus-virus baru terjadilah lisis sel bakteri (uraian sama dengan daur litik). Virus-virus yang terbentuk berhamburan keluar dari sel bakteri lalu menyerang bakteri baru. Dalam daur selanjutnya, virus dapat mengalami daur litik atau daur lisogenik. Demikian seterusnya.

f. Parasitisme virus

Jika bakteriofag menginfeksikan genomnya ke dalam sel inang, maka virus hewan diselubungi oleh endositosis atau, jika terbungkus membran, menyatu dengan plasmalema inang dan melepaskan inti nukleoproteinnya ke dalam sel. Beberapa virus (misalnya virus polio), mempunyai tempat-tempat reseptor yang khas pada sel inangnya, yang memungkinkannya masuk. Setelah di dalam, biasanya genom tersebut mula-mula ditranskripsi oleh enzim inang tetapi kemudian biasanya enzim yang tersandi oleh virus akan mengambil alih. Sintesis sel inang biasanya berhenti, genom virus bereplikasi dan kapsomer disintesis sebelum menjadi virion dewasa. Virus biasanya mengkode suatu enzim yang diproduksi terakhir, merobek plasma membran inang (tahap lisis) dan melepaskan keturunan infektif; atau dapat pula genom virus terintegrasi ke dalam kromsom inang dan bereplikasi bersamanya (provirus). Banyak genom eukariota mempunyai komponen provirus. Kadang-kadang hal ini mengakibatkan transformasi neoplastik sel melalui sintesis protein biasanya hanya diproduksi selama penggandaan virus. Virus tumor DNA mencakup adenovirus dan papavavirus; virus tumor DNA terbungkus dan mencakup beberapa retrovirus (contohnya virus sarkoma rous).

 

G. Klasifikasi Virus

Contoh klasifikasi virus adalah klasifikasi Baltimore yang membagi virus berdasarkan kombinasi asam nukleatnya (DNA atau RNA), rantai asam nukleatnya (tunggal atau ganda), dan cara replikasinya. Asam nukleat adalah senyawa yang berfungsi sebagai pembawa sifat. Ada dua jenis asam nukleat, yaitu DNA dan RNA. DNA pada umumnya berupa rantai ganda berpilin (double helix) sedangkan RNA berupa rantai tunggal atau ganda tak bepilin. Virus juga memiliki bermacam-macam asam nukleat. Klasifikasi Baltimore yang mengelompokkan virus bedasarkan tipe asam nukleatnya adalah sebagai berikut:

Kelompok I    : virus DNA rantai ganda
Kelompok II   : virus DNA rantai tunggal
Kelompok III  : virus RNA rantai ganda
Kelompok IV : virus RNA rantai tunggal positif
Kelompok V  : virus RNA rantai tunggal negative
Kelompok VI : virus RNA transkripsi balik
Kelompok VII            : virus DNA transkripsi balik

Ada juga pengelompokkan virus berdasarkan asam nukleatnya, yaitu virus DNA dan virus RNA sebagai berikut:

1. Virus DNA
Virus DNA adalah virus yang asam nukleatnya berupa DNA, baik untai ganda maupun untai tunggal. Golongan ini mencakup virus dari kelompok I dan II. Ketika virus menginfeksi sel inang, DNA mengalami replikasi (penggandaan) menjadi beberapa DNA. DNA juga mengalami transkripsi membentuk mRNA (RNA duta). RNA duta (mRNA) akan mengalami translasi (penerjemahan) untuk menghasilkan protein selubung virus. Masih didalam sel inang, DNA dan protein virus mengkontruksi diri menjadi virus-virus baru. mRNA juga mentranslasi membentuk enzim penghancur yang akhirnya menghancurkan membran sel. Dengan demikian sel inang lisis (hancur) dan virus-virus keluar dan siap menginfeksi sel inang yang baru. Virus yang intinya berupa DNA misalnya virus herpes, bakteriofag, virus cacar.

2. Virus RNA
Virus RNA memiliki asam nukleat berupa RNA, baik untai ganda maupun untai tunggal. Golongan ini mencakup virus dari kelompok III, IV, V. virus ini didalam sel inang akan mengalami replikasi membentuk RNA-RNA baru. RNA juga mengalami translasi membentuk protein untuk selubung virus. didalam sel inang, RNA dan protein virus mengkontruksi diri menjadi virus-virus baru. mRNA juga mentranslasi membentuk enzim lisis. Enzim lisis akan menghancurkan membran sel. Dengan demikian sel inang lisis (hancur) dan virus-virus keluar dan siap menginfeksi sel inang yang baru. 

3. Virus Transkripsi Balik (reserve transcribing virus)
Virus ini merupakan virus yang bereplikasi menggunakan transkripsi balik, yaitu pembentukan DNA dengan cetakan RNA. Golongan ini mencakup virus dari kelompok VI, dan VII. Contoh dari virus ini adalah retrovirus, misalnya HIV penyebab penyakit AIDS.

Berbeda dengan virus DNA dan RNA, retrovirus masuk ke dalam sel dengan cara endositosis. Endositisis adalah masuknya molekul dengan cara sebagai berikut. Sel membentuk tonjolan kemudian molekul dicaplok dan ditelan masuk kedalam sel. Jadi dengan cara endositosis, baik inti maupun kapsid retrovirus ikut masuk kedalam sel inang.

Didalam sel inang, RNA retrovirus dapat membuat kopi DNA (cDNA). Hal ini dapat terjadi karena retrovirus memiliki enzim transcriptase balik, yaitu enzim yang dapat membuat kopi DNA dari RNA. Kemampuan itu tidak dimiliki oleh organisme selain virus. DNA kopi ini kemudian diintegrasikan kedalam DNA inang (pada umunya sel hewan). DNA kemudian mengalami transkripsi membentuk messenger RNA (mRNA), baik mRNA yang akan menjadi RNA inti virus, maupun mRNA yang membawa kodon yang akan ditranslasikan menjadi protein dan enzim transcriptase balik.

Selanjutnya RNA–RNA inti virus, enzim transcriptase balik, dan protein virus mengkontruksi diri membentuk virus-virus baru. Retrovirus tidak memproduksi enzim lisis. Jadi, virus-virus baru yang dibentuk didalam sel inang keluar sel dengan tidak menghancurkan membran sel, tetapi dengan cara eksositosis. Eksositosis adalah kebalikan dari endositosis.

Share on Facebook
Share on Twitter
Share on Google+
Tags :

Related : Sejarah, Pengertian, Ciri-ciri, Struktur dan Cara Reproduksi Virus

Comments
0 Comments

0 komentar:

Post a Comment

Loading...
Loading...