materi kuliah biologi, biologi kesehatan, biologi sel, karakteristik mahluk hidup, klasifikasi mahluk hidup, plantae, animalia dan kerugian dan keuntungan biologi bagi kehidupan

Tuesday, 15 May 2018

Klasifikasi Chordata

Klasifikasi Chordata - Chordata berdasarkan ada tidaknya kepala, hewan-hewan anggota filum ini dibagi atas 5 subfilum, yaitu: 

Klasifikasi Chordata
Klasifikasi Chordata


1. Subfilum Hemichordata (Hemi = setengah): notokorda pendek, di sebelah anterior. Jaringan saraf dalam epidermis. Celah insang banyak (Enteropneusta). Celah insang 2 atau tak ada (Pterobranchia). Hidup dalam koloni, dengan kulit berkitin. Contoh: Graptozoa sp dan Balanoglossus sp. 

2. Subfilum Urochordata (Oura = ekor): larvanya kecil seperti berudu, notochord dan nervecord terdapat di daerah ekor, hewan dewasa transparan, tanpa notochord berbentuk tubular, globular, atau tidak beraturan, tubuh diselubungi testa, tanpa rongga tubuh, organ reproduksi umumnya berumah dua dan ada yang hermafrodit. Contoh: Appendicularis sp dan Ascidia intestinalis. 

3. Subfilum Cephalochordata (Chepale = kepala): tubuh tidak bersegmen, pipih seperti ikan, tanpa testa, epidermis hanya satu lapis, tanpa sisik, notochord dan nervecord terdapat di sepanjang tubuh dan tetap sampai stadium dewasa, organ reproduksi diosius, gonad berjumlah 26 pasang atau tidak berpasangan, memiliki endostil, hidup tersebar di perairan pantai dan celah insang banyak (Leptocardii). Contoh: Amphioxus lanceolatus dan Amphioxides sp. 

4. Subfilum Agnatha: tidak memiliki rahang, bentuk badan ramping dan panjang serta mampu hidup di perairan laut dan tawar, rangka terdiri atas tulang rawan, sirip tidak berpasangan, di bagian ventral tubuh terdapat mulut dan lubang hidung, tubuhnya panjang silindris, bernafas dengan insang dan parasit pada ikan besar. Contoh: ikan bermulut bundar (Cyclostomata sp), belut laut (Petromyzon sp) dan ikan Hantu ( Myxine sp.) 

5. Subfilum Gnathostomata: hewan ini memiliki rahang bersendi dan dapat digerakkan ke atas dan juga ke bawah. Contoh: ikan badut (Premnas biaculeatus) dan ikan kakap merah (Lutjanus bitaeniatus). 

SUBFILUM HEMICHORDATA 

SUBFILUM HEMICHORDATA

Subfilum Hemichordata (setengah Chordata) sering disebut adelochordata (Chorda yang tidak tampak). Kedudukan Hemichordata dalam Chordata tidak begitu pasti. Subfilum ini terdiri atas sejumlah hewan-hewan yang mempunyai bentuk seperti cacing. Hemichordata berukuran kecil, hewan bertubuh lunak, dari dasar laut yang berpasir atau berlumpur. Hewan ini memiliki celah insang yang berpasangan, struktur pendek yang diidentifikasi sebagai notokorda dan jaringan saraf dorsal serta ventral. 

Oleh sebab itu dianggap sebagai anggota paling rendah dari filum Chordata oleh sebagian besar ahli zoologi. Pada individu dewasa, struktur celah insang batang insang berkitin, dan banyak gonad mirip dengan struktur pada Amphioxus. Berbentuk ramping dan memiliki panjang 25 sampai 2.500 mm (1 sampai 100 inci). Hewan ini sebagian besar hidup di perairan yang dangkal tetapi beberapa spesies hidup di perairan yang lebih dalam, bahkan mencapai 4.500 meter. Mereka menggali secara dangkal dengan menggunakan probosis halus. Lendir lengket yang disekresikan oleh kelenjar di kulit menyebabkan pembentukan tempat penyimpanan berbentuk pipa dari pasir atau puing-puing lainnya tempat setiap hewan tersebut tinggal. Beberapa cacing lidah inimemiliki aroma yang tetap dan sering tidak enak. 

Cacing lidah (Subfilum Hemichordata), tampilan dorsal
Tubuh terdiri atas probosis, leher, dan badan yang panjang. Di belakang leher terdapat banyak celah insang di kedua sisi. Di bagian ventral celah insang ini terdapat parabung lateral yang menandakan adanya gonad. Beberapa spesies memiliki perabung transversal berpasangan, dorsal di belakang insang, yang mengindetifikasikan seka pencernaan. Mulut membuka lebar di batas ventral anterior leher, di belakang probosis, berikutnya rongga bukal yang berdilatasi dan kemudian faring dengan lubang berbentuk U tinggi di kedua sisi yang menghubungkan dengan kantung insang. Usus yang lurus, dengan seka hepatika dorsal (kantung hati) mengarah ke anus terminal. Rongga pada probosis dan leher pori dorsal kemungkinan terisi dengan air melalui pori dorsal, ketika bagian ini menjadi membengkak, hewan tersebut menggali pasir atau lumpur, dibantu oleh gerak otot batang tubuh. Campuran air dan pasir yang mengandung sampah organik memasuki mulut, air masuk melalui celah insang untuk respirasi, material oraganik berperan sebagai makanan dan pasir dikeluarkan melalui anus. 

Sistem sirkulasi mencangkup pembuluh middorsal dimana darah tak berwarna mengalir di bagian anterior (seperti pada annelida) dan sebuah pembuluh midventral. Keduanya bergabung ke “jantung”, dorsal ke notokorda dan terdapat cabang-cabang lain di dekat celah insang. Kontraksi pembuluh yang lebih besar kemungkinan menyebabkan darah bersirkulasi. Sebuah glomerulus kecil yang tidak berpasangan, atau kelenjar probosis diduga menjadi organ ekskresi. Dinding tubuh terdiri atas epidermis tebal uniselular dengan banyak sel mukus, di bawah bagian yang merupakan lapisan otot. Notokorda merupakan pembentukan kantung keluar, pendek anterior dan di dekat saluran pencernaan di bagian belakang probosis. Terdapat juga kerangka probosis kecil. Sistem saraf terdiri atas sel dan serabut di dasar epidermis. Konsentrasinya menyediakan “korda” saraf middorsal dan midsentral, dengan penghubung berbentuk cincin di antara keduanya di bagian leher. Korda yang menebal, berongga pada beberapa spesies, terdapat di leher, dorsal terhadap rongga mulut dan memiliki banyak serabut saraf di epidermis probosis. Selom direprentasikan oleh lima rongga, satu di probosis dan sepasang masing-masing di leher dan batang tubuh. Jenis kelamin terpisah, dengan banyak gonad di dua baris dorsolateral dari belakang leher keseka gastrik, masing-masing ketika matang melepaskan isi kandungannya ke eksterior melalui pori yang terpisah, dan fertilisasi terjadi secara eksternal. Pada beberapa spesies, telur menghasilkan larva tornaria yang berbentuk oval, kecil, agak transparan, dan dengan pita permukaan dari silia. Pada saat metamorfosis probosis dan leher menjadi terlihat. Spesies Amerika berkembang langsung tanpa tahap larva. Cacing lidah dapat metegenerasi bagian batang tubuh, probosis, dan leher. Beberapa kolonial kecil (Chepalodiscus, Rhabdopleura) memiliki bentuk menyerupai cacing lidah dalam hal struktur umum, tetapi hanya memiliki satu pasang celah insang atau tidak ada. Chepalodiscus menyekresikan “rumah” yang menyembunyikan banyak individu, masing-masing dengan saluran pencernaan berbentuk U. 

Sistematika 

Subfilum Hemichordata terbagi atas 2 kelas yang penting, yaitu: 

1. Kelas Enteropneusta, memiliki bentuk tubuh seperti cacing dengan ukuran 9-45 cm. Umumnya terdapat di perairan dangkal, di bawah batu dan karang dan meliang dalam lumpur dan pasir. Tubuh umumnya lunak dan terdiri dari belalai, kelepak (collar), dan badan yang panjang. Pada belalai (probosis) terdapat cillia yang berfungsi sebagai tenaga penggerak dan mengalir butir-butir makanan yang menempel pada lendir ke mulut. Kelepak berbentuk silinder, bagian anterior menutupi belalai dan bagian ventral terletak mulut. Reproduksi seksual, dioecious dan pembuahan terjadi di luar. Telur mentas menjadi larva tornaria yang berenang bebas. Contoh: Balanoslossus sp dan Ptychodera sp. 

2. Kelas Pterobranchia, merupakan hewan kecil yang hidup di dalam tabung, berkelompok atau berkoloni. Panjang individu tidak lebih 12 mm. Tubuh terdiri atas probosis yang berbentuk seperti tameng (perisai) dan tangan-tangan yang mengandung tentakel terdapat di bagian dorsal kelepak (collar). Tangan tentakel tersebut disebut tangan lophophore. Tentakel berfungsi untuk menangkap makanan yang berupa organisme kecil dan disalurkan oleh cillia ke mulut. Reproduksi aseksual dengan membentuk pertunasan sehingga menghasilkan sebuah koloni yang lebih besar. Contoh: Cephalodiscus sp dan Rhabdopleura sp. 


SUBFILUM UROCHORDATA 
Subfilum Urochordata disebut juga subfilum Tunicata. Urochordata menempati laut, kutub sampai daerah tropis dan dari perairan pantai yang dangkal hingga kedalaman 4,8 km. Beberapa spesies hidup bebas dan spesies yang lain melekat (sesil) setelah tahap larva bebas selama beberapa waktu, beberapa soliter, yang lain berkoloni, individu-individu mengelompok dalam penutup yang umum. Urochordata bervariasi dalam hal ukuran mulai dari individu yang hampir mikroskopis hingga individu lainnya yang mencapai diameter sebesar 30,5 cm. Metode reproduksi organisme ini bervariasi. Beberapa secara seksual, beberapa secara aseksual dengan tunas. Nama kelompok mengacu kepada “tunik” yang disekresikannya atau penutup seperti kantung yang menyelaputi seluruh tubuh. Urochordata yang paling dikenal adalah sea aquirt atau ascidian, yang ketika disentuh tiba-tiba menyemprotkan air dari lubang pada penutup tubuh.

Urochordata dipahami dengan baik dengan mempertimbangkan pertama-tama larva hidup bebas sari seekor ascidian dan kemudian individu dewasanya. Larva menunjukkan karakteristik Chordata, tetapi beberapa karakteristik diantaranya tidak ada pada individu dewasa dan larva yang lain memiliki karakteristik yang tidak jelas karena adaptasi ke cara hidup sesil. Larva ascidian kemudian bertelur. Telur berukuran kecil yang difertilisasi bersegmen-segmen untuk membentuk blastula dan kemudian gastrula, embrio memanjang dan segera menetas sebagai larva yang berenang bebas, seperti kecebong katak. Ekornya mengandung notokorda penopang, sebuah tali saraf dorsal berbentuk pipa dan sepasang otot bersegmen lateral. Organ yang lain ditahan ke anterior dan kepala yang lebih besar + daerah badan. Ujung anterior mengandung tiga kelenjar mukosa atau kelenjar adhesif.

Saluran pencernaan sempurna dengan mulut, celah insang yang erlubang-lubang, usus dan anus, terdapat sistem sirkulasi dengan pembuluh darah dan selom. Selain tali saraf sistem saraf dan struktur sensori mencangkup
(1) vesikula serebrum dan posterior terhadapnya
(2) ganglion batang tubuh
(3) organ optik median dengan retina, lensa, pigmen, dan kornea serta
(4) otolit berpigmen atau telinga melekat kecil ke sel rambut yang halus.

Metamorfosisnya setelah hidup bebas selama beberapa jam atau hari, larva kecil melekat secara ventral dengan menggunakan kelenjar adhesif ke sebuah batu atau ke tiang dermaga. Transformasi cepat (metamorfosis mundur) terjadi selama sebagian besar karakteristik Chordata menghilang. Ekor sebagian diabsorbsi dan sebagian dilepaskan, notokorda, tali saraf dan ototnya ditarik ke dalam tubuh dan diabsorbsi. Dari sistem saraf hanya ganglion batang tubuh yang dipertahankan. Kantung brankial atau kantung “insang” membesar, mengembangkan banyak apertura, dan diinvasi oleh pembuluh-pembuluh darah. Lambung dan usus tumbuh. Bagian tubuh hewan diantara titik perlekatan dan mulut tumbuh dengan cepat, menyebabkan “tubuh” di dalamnya berotasi secara dorsoventral hampir 180 derajat sehingga “mulut” berada di ujung atas atau ujung yang tidak melekat. Akhirnya, gonad dan saluran terbentuk di mesoderm antara lambung dan usus. Kelenjar adhesif menghilang dan tunik tumuh ke atas untuk menutup keseluruhan tubuh hewan. Ascidian dewasa berbentuk silindris atau bulat melekat dengan menggunakan dasar atau tangkai. 



Hewan ini diselaputi dengan lapisan elastis kuat, test atau tunik dari material seperti selulosa (jarang pada hewan). Test ini dilapisi oleh mantel bermembran yang mengandung serabut otot dan pembuluh darah. Terdapat dua lubang eksternal, sifon arus masuk (apertura brankial) diatas dan sifon arus keluar (apertura atrial) di salah satu sisi. Air yang masuk ke dalam sifon arus masuk. Membawa organisme kecil yang berperan sebagai makanan dan oksigen untuk respirasi, air yang keluar melalui sifon arus keluar membuang limbah dan sel kelamin. Di dalam test dan mantel terdapat rongga atrial yang mengandung sebuah kantung brankial yang terdilatasi dan banyak mengandung pori. Sistem pencernaan dimulai dari mulut yang diikuti dengan sebuah lingkaran tentakel sensori seperti rambut di jalan masuk ke kantung brankial. Di sepanjang dinding midventral kantung brankial terdapat endostil, sebuah lekuk vertikal yang dilapisi dengan silia dan sel mukus dimana makanan dan air yang masuk ditangkap dan digerakkan ke bawah. Karena hanya memakan plankton, ascidian tidak membutuhkan embelan yang besar untuk menangani makanan. Dari dasar kantung brankial, esofagus mengarah ke lambung yang terdilatasi yang menghubungkan ke usus, lambung dan usus terdapat di luar kantung brankial. Usus melengkung ke atas untuk berakhir di anus di bawah sifon arus keluar. Sebuah kelenjar pencernaan terhubung ke lambung. Dinding kantung brankial memiliki banyak pori yang dibatasi oleh sel-sel bersilia yang menghentak untuk menggerakkan air dari dalam kantung ke rongga antrial, dari mana air mengalir ke sifon untuk keluar. Sistem dalam sirkulasi mencakup jantung berbentuk tabung ke rongga viseral di dekat lambung. Setiap ujung jantung terhubung sebuah pembuluh besar atau aorta, satu mendistribusikan kelambung, dinding test dan salah satu sisi kantung brankial, pembuluh lain melayani sisi kantung yang berlawanan. Di dinding kantung sebuah rangkaian yang saling berkomunikasi dari pembuluh kecil di sekeliling pori dalam kantung brankial berperan sebagai mekanisme respirasi. 

Pembuluh ini merupakan ruang di dalam jaringan dan tidak memiliki lapisan endotelium. Urochordata merupakan kelompok yang unik karena jalur aliran darah berbalik pada interval pendek. Jantung dan pembuluh darah tidak memiliki katup. Di dekat usus terdapat struktur, tanpa saluran dianggap berperan dalam ekskresi. Satu-satunya peninggalan sistem saraf adalah ganglion batang tubuh panjang di mantel anatara kedua sifon, dengan saraf berbagai bagian. Di dekatnya terdapat kelenjar neural, kemungkinan memiliki sifat-sifat endokrin dan agak mirip dengan struktur pituitari. Ascidian bersifat monoesis, tetapi mandul sendiri. Ovarium adalah kelenjar besar berongga di lengkung intestinal, dan oviduk, pararel terhadap usus, membuka di rongga atrial dekat anus. Testis terdiri atas banyak tubulus bercabang, di permukaan ovarium dan usus, yang mengeluarkan isinya ke vas deferens yang pararel terhadap oviduk. Beberapa unicata juga berproduksi secara aseksual dengan tunas. Ascidian sederhana, setiap individu terdapat pada test yang terpisah, umum di perairan laut dan yang lain hidup di kedalaman hingga 5.220 m. Banyak individu yang putih pucat atau kekuningan, beberapa memiliki warna yang cerah. Gabungan ascidian sebagai berikut: 

Gabungan ascidian

Gabungan ascidian tumbuh menjadi massa lunak dengan banyak individu kecil terpisah yang tertanam di penutup yang umum. Kedua tipe melekat ke batu, kayu, dan material lain di dalam air. Contoh: Molgula sp. (soliter), Otryllus sp. (koloni) 

Sistematika 

Subfilum Urochordata terbagi atas 3 kelas yang penting, yaitu: 

1. Kelas Larvacea, hewan dewasa mempunyai tubuh bertesta, bentuk seperti larva, berukuran 5 mm, notochord, otak, dan nevecord tetap bertahan sampai dewasa, berukuran kecil yang difertilisasi bersegmen-segmen untuk membentuk blastula dan kemudian gastrula, embrio memanjang dan segera menetas sebagai larva yang berenang bebas, seperti kecebong katak. Contoh: Oikopleura sp dan Appendicularia sp. 

2. Kelas Ascidiacea, memiliki bentuk tubuh bervariasi, hidup soliter atau berkoloni, biasanya sesil setelah hilangnya notochord, hewan dewasa kehilangan nervecord, testa permanen dan berlubang. Contoh: Clavelina sp, Ciona sp, Molgula sp, Ascidia sp dan Ascidia intertinalis 

3. Kelas Thaliacea, ukuran tubuh bervariasi, hewan dewasa kehilangan notochord dan ekor, testa permanen, tubuh dilengkapi dengan serbuk otot sirkular, aurikel terbuka ke arah posterior, reproduksi dapat terjadi secara aseksual. Contoh: Doliolum denticulatum, Phyrosoma sp dan Salpa sp. 


SUBFILUM CEPHALOCHORDATA 
Cephalochordata merupakan golongan kecil dengan bentuk menyerupai ikan. Subfilum cephalochordata biasanya hidup di daerah perairan pantai yang dangkal, hanya menyisakan ujung anteriornya yang menonjol. Kadang kala hewan ini muncul untuk berenang dengan menggunakan gerakan lateral tubuh yang cepat. Seperti Amphioxus sp. Tubuh berbentuk ramping dan padat secara lateral, meruncing di kedua ujung, tidak terdapat kepala yang jelas seperti gambar di bawah ini 


Subfilum Chepalochordata

Sirip dorsal median bawah di sepanjang sebagian besar bagian tubuh dan sirip preanal dari atriopori sampai ke anus terdiri atas ruangan-ruangan yang mengandung jejari sirip dari jaringan ikat. Ekor memiliki sirip bermembran. Anterior terhadap sirip ventral, tubuh memipih di permukaan bawah dengan lipatan metapleural di sepanjang setiap sisi. Mulut terletak ventral di ujung anterior, anus di sisi kiri dekat dasar sirip ekor dan atriopori merupakan lubang ventral tambahan di depan anus. Penutup tubuh merupakan batang ramping dari sel tinggi bergelatin yang dikelilingi oelh selubung jaringan ikat. Struktur pendukung yang lain mencakup penguatan di tudung oral, jejari sirip, dan batang halus dengan hubungan silang di batang insang. 

Di sepanjang setiap sisi tubu dan ekor, spesies yang berbeda-beda memiliki 50 sampai 85 otot (miomer). Masing-masing terdiri atas serabut otot yang memanjang dan dipisahkan antara yang satu dengan yang lain oleh septa tipis dari jaringan ikat. Kedua otot tersebut, dikedua sisi, posisinya berselang seling. Otot berkontraksi untuk menghasilkan pembungkukan ke arah lateral untuk menggali dan berenang. Otot transversal di lantai rongga atrial, di antara lipatan metapleural berfungsi untuk mendorong air ke eksterior. Saluran pencernaan yang lurus dan sederhana dengan tudung oral (vestibula) anterior dikelilingi oleh sekitar 22 siri bukal berdaging di belakangnya terdapat beberapa batang bersilia. Lubang mulut yang melingkar terdapat di dalam membran (velum) posterior di tudung oral dan dijaga oleh 12 tentakel velar yang menghalangi partikel besar untuk masuk. Silia di dalam tudung ketika hidup, menghasilkan efek rotasi dan disebut “organ roda”. Siri tentakel dan tudung mengandung struktur sensori. Di belakang mulut terdapat faring yang padat dan besar dengan banyak celah insang diagonal di sisinya. Setelah faring usu yang lurus dan sempit, yang berujung di anus. Hati yang ramping dan berbentuk seperti kantung diperkirakan menyekresikan getah pencernaan, melekat secara ventral ke bagian anterior usu dengan baik di dalam selom bagian depan. Faring menggantung di bagian dorsal, dibawah notokorda, tetapi menggantung bebas di dalam rongga, atrium, di dalam otot dinding tubuh. Atrium merupakan rongga eksternal, dilapisi dengan ektoderm (oleh sebab itu, bukan selom) dan terhubung ke atriopori. Faring mengandung alur middorsal (lekuk hiperbrankial) yang dilapisi dengan sel bersilia dan di bagian midventral terdapat lekuk yang sama, endostil, dengan sel bersilia dan sel kelenjar. 


Amphioxus sp

Air yang mengandung organisme kecil dimasukkan ke mulut dengan aksi silia, makanan diperangkap oleh lendir di endostil dan dibawa secara posterior ke usus, sedangkan air melintas di antara batang insang ke atrium dan kemudian ke eksterior melalui atriopori. Sistem sirkulasi agak mirip dengan sistem sirkulasi pada Chordata yang lebih tinggi, tetapi tidak memiliki jantung. Selain pembuluh darah yang jelas, terdapat ruang terbuka tempat darah yang tidak berwarna masuk ke jaringan. Darah dari saluran pencernaan mengalir secara anterior di dalam vena subintestinal ke vena porta hepatika yang masuk ke hati, kemudian darah tersebut berkumpul di vena hepatika dan dengan darah lain dari bagian posterior tubuh melintas ke depan di aorta ventral di bawah endostil dan ke cabang-cabang di setiap batang insang primer. Setiap cabang memiliki bulbus kecil yang berdenyut, dan bersama-sama mereka berfungsi sebagai jantung, mendorong darah ke atas di batang insang, tempat darah tercampur dengan gas dan kemudian mengumpul di aorta dorsaal yang berpasangan. Aorta dorsal bergabung di belakang faring untuk membentuk satu aorta dorsal di mana darah masuk secara posterior untuk menyuplai tubuh dan usus dan akhirnya melalui kapiler ke bagian vena. Sebagian darah yang mengandung oksigen melintas ke dapan di aorta dorsal kanan ke ujung anterior tubuh. Jalur umum aliran darah di Amphioxus dengan demikian mirip dengan aliran darah di Chordata yang lebih tinggi dan berlawanan dengan aliran darah pada invertebrata seperti annelida.

Respirasi dihasilkan dari perjalanan air yang mengandung oksigen dari faring melalui 100 atau lebih celah insang di setiap sisi dan melintasi batang insang, yang mengandung pembuluh darah. Aliran air ini dibantu oleh silia di batang insang. Sistem insang dari amphioxus mirip dengan sistem insang pada chordata tingkat tinggi selama kehidupan larva awal, permukaan dalamnya berasal dari endoderm dan permukaan luarnya berasal dari ektoderm. Lalu diselubungi oleh pertumbuhan dinding penutup yang membentuk rongga atrial di luar insang. Selom, selama perkembangan dibentuk oleh lima kantung embrionik seperti pada hemichordata pada amphioxus dewasa, selom mengecil dan menjadi lebih kompleks, kecuali disekeliling usus. Sistem eskresi terdiri atas sekitar 100 pasang nefridia kecil bersilia di relik dorsal selom di atas faring. Nefridia menghubungkan selom ke rongga atrial dan menunjukkan kesamaan struktural dengan nefridia pada beberapa cacing annelida. Sistem saraf terdapat di atas notokorda, sistem tersebut terdiri atas satu tali saraf dorsal dengan kanal sentral kecil. Ujung anterior sedikit membesar untuk membentuk vesikula serebrum median, dengan sebuah lubang olfaktori middorsal, sebuah bintik mata dari pigmen hitam yang berukuran kecil dan nonsensori, serta dua pasang “saraf” kranial. Tali saraf memberikan sepasang saraf ke setiap miotom secara bergantia, akar dorsal menjadi berfungsi sensori dan motori, akar ventral hanya berfungsi motor. Epidermis permukaan tubuh dan bagian mulut memiliki sel bersilia, agaknya berfungsi sensori. 

Sistematika 

Subfilum Cephalochordata terbagi atas 1 kelas yang penting, yaitu: 
1. Kelas Leptocardii, memiliki tubuh kecil, memanjang, pipih, seperti bentuk ikan, tetapi tidak ada sirip atau kepala yang jelas. Notokorda dan korda saraf tumbuh baik dan terletak membujur sepanjang tubuh dan tetap ada selama hidup. Faring dengan banyak celah insang terdapat dalam ruang atrial. Kelamin terpisah. Fertilisasi eksternal. Contoh: Amphioxus sp dan Branchiostoma sp. 

SUBFILUM AGNATHA 
Agnatha merupakan vertebrata yang tidak berahang. Subfilum Agnatha meliputi hewan–hewan mirip ikan yang telah punah disebut Ostrakoderma (berkulit cakngkang) yang dibungkus oleh beberapa lempengan bertulang sebagai pelindung. Agnatha umumnya berukuran kecil dengan panjang kurang dari 50cm. Sebagian besar tidak memiliki sirip yang berpasangan dan merupakan hewan yang tinggal di dasar perairan yang bergeliat di sepanjang hamparan arus atau dasar laut, tetapi ada juga beberapa spesies yang lebih aktif memiliki sirip berpasangan. Mulut mereka berbentuk bundar atau berupa bukaan mirip celah dan tidak memiliki rahang. Sebagian besar hewan Agnatha adalah penyedot lumpur atau pemakan suspensi yang mengambil sedimen dan serpihan bahan organik yang tersuspensi melalui mulutnya dan kemudian meneruskannya melalui celah insang, tempat terperangkapnya makanan. 

Sistematika 

Subfilum Agnatha terbagi atas 2 kelas yang penting, yaitu: 

1. Kelas Ostracodermi merupakan hewan yang sudah punah. 

2. Kelas Cylostomata, memiliki tubuh berupa kombinasi antara kepala dan badan, berbentuk silindris. Ekor pipih lateral. Sirip median. Ada corong bukal (buccal funnel/corong mulut) di sebelah ventral kepala dan bergigi. Satu lubang hidung. Dua buah mata, tertutup dengan kulit tembus cahaya (bukan kelopak mata). Di belakang tiap mata ada 7 celah insang. Di sepanjang sisi tubuh terdapat titik-titik perasa. Seluruh tubuh tertutup dengan epitel berlendir. Contoh: Petromyzon sp dan Entphenus sp. 

SUBFILUM GNATHOSTOMATA 
Gnathostomata merupakan vertebrata yang berahang. Subfilum Gnathostomata (mulut berahang) menggantikan sebagian besar hewan agnatha. Kelas ikan yang masih hidup (Chodrichthyes dan Osteichthyes) pertama kali muncul pada masa Silur dan awal masa Devon; brsama-sama dengan suatu kelompok yang diberi nama plakoderma (placoderm) berkulit lempeng yang tidak memiliki keturunan yang hidup. Vertebrata berahang juga memiliki dua pasang anggota badan berpasangan. Sementara itu, hewan Agnatha tidak memiliki anggota badan yang berpasangan atau hanya memiliki sepasang. 

Sistematika 

Subfilum Gnathostomata terbagi atas 2 superkelas yang penting, yaitu: 

1. Superkelas Pisces, memiliki otak yang terbagi menjadi regio, otak itu dibungkus dalam kranium (tulang kepala) yang berupa kartilago (tulang rawan) dan sepasang mata dan bernapas dengan menggunakan insang. 

a.) Kelas Placodermi (punah) 

b.) Kelas Chondrichthyes, memiliki rangka yang tersusun atas tulang rawan, mulut berahang kuat dan terletak di bawah tubuh, bernapas dengan insang, memiliki indra yang berkembang dengan baik, fertilisasi terjadi secara internal. Contoh: ikan hiu (Squalus sp),ikan pari (Raja sp) dan chimaera (Shimaera sp) 

1.) Subkelas Elasmobranchii 

(a.) Ordo Lamniformes (bangsa hiu) 

(b.) Ordo Squaliformes (bangsa hiu) 

(c.) Ordo Squatiniformes (hiu nona) 

(d.) Ordo Rajiformes (ikan pari) 

2.) Subkelas Holocephali 

(a.) Ordo Chimaerifrmes (chimera atau ratfishes) 

c.) Kelas Osteichthyes, memiliki rangka yang tersusun atas tulang keras dan mengandung matriks kalsium fosfat, mulut terletak di bagian depan tubuh, terdapat celah insang di tiap sisi kepala, fertilisasi terjadi secara eksternal dan bersifat ovipar, habitat di perairan tawar. Contoh: sturgeon (Acipenser sturio), gar (Lepidosteus osseus), ikan lele (Ameiurus melas) dan belut (Anquilla sp) 

1.) Subkelas Actinopterygii 

2.) Subkelas Sarcopterygii 

(a.) Superordo Crossopterygii 

(b.) Superordo Dipnoi (ikan paru-paru) 

2. Superkelas Tetrapoda, memiliki rangka yang tersusun atas tulang keras dan mengandung matriks kalsium fosfat, mulut terletak di bagian depan tubuh, terdapat celah insang di tiap sisi kepala, fertilisasi terjadi secara eksternal dan habitat di perairan tawar. 

a.) Kelas Amphibia. Contoh: Anura sp (kodok atau katak) dan Salamander (Caundata sp) 

1.) Subkelas Lissamphibia (ampfibi modern) 

(a.) Ordo Anura (katak atau kodok) 

(b.) Ordo Urodela (salamander) 

(c.) Ordo Apoda Atau Gymnophiona 

b.) Kelas Reptilia. Contoh: kura-kura (Chelydra sp), dan Chleonia sp. 

1.) Subkelas Anapsida 

(a.) Ordo Testudinata (kura-kura) 

2.) Subkelas Lepodosauria 

(a.) Ordo Squamata (kadal, ular, komodo, biawak) 

3.) Subkelas Archosauria 

(a.) Ordo Crocodilia (buaya dan aligator) 

c.) Kelas Aves. Contoh: merpati (Columbia fasciata) dan burung hantu (Bubo virgianus) 

1.) Subkelas Neornites (semua jenis burung yang ada) 

d.) Kelas Mammalia. Contoh: manusia 

1.) Subkelas Prototheria 

(a.) Infrakelas Ornithodelphia (monotremata, mamal bertelur) 

2.) Subkelas Metatheria (marsupialia, sebangsa kangguru) 

(a.) Infrakelas Eutheria (mamal berplasenta) 

Share on Facebook
Share on Twitter
Share on Google+
Tags :

Related : Klasifikasi Chordata

Comments
0 Comments

0 komentar:

Post a Comment

Loading...
Loading...