materi kuliah biologi, biologi kesehatan, biologi sel, karakteristik mahluk hidup, klasifikasi mahluk hidup, plantae, animalia dan kerugian dan keuntungan biologi bagi kehidupan

Thursday, 24 August 2017

Pengertian, Contoh dan Faktor-faktor yang Mempengaruhi Suksesi

Pengertian, Contoh dan Faktor-faktor yang Mempengaruhi Suksesi - Ekosistem di alam memiliki pola penyesuaian yang terjadi dalam waktu yang sangat lama untuk mempertahankan stabilitasnya yaitu dengan mengalami suatu perubahan. Perubahan tersebut dapat menyangkut perubahan bentuk, perubahan struktur maupun perubahan fungsi. Perubahan lainnya pun dapat terjadi sehingga dapat mempengaruhi sistem secara keseluruhan. Perubahan ini mengalami perkembangan sehingga mencapai tingkat kestabilan. Perubahan ekosistem pada dasarnya dapat disebabkan oleh berbagai penyebab utama, yaitu akibat perubahan iklim, pengaruh dari faktor luar, dan karakteristik sistem itu sendiri. perubahan ekosistem juga berdampak pada perubahan lingkungan hidup dan masalah konservasi lingkungan hidup.


Pengertian, Contoh dan Faktor-faktor yang Mempengaruhi Suksesi
Pengertian, Contoh dan Faktor-faktor yang Mempengaruhi Suksesi


Perkembangan ekosistem menuju kedewasaan dan keseimbangan disebut suksesi. Suksesi terjadi sebagai akibat dari modifikasi lingkungan fisik dalam komunitas atau ekosistem. Proses suksesi berakhir dengan sebuah komunitas atau ekosistem klimaks atau telah tercapai keadaan seimbang (homeostatis). Di alam terdapat dua macam suksesi yaitu suksesi primer dan suksesi sekunderSuksesi primer terjadi jika komunitas asal terganggu.

Gangguan  ini mengakibatkan hilangnya komunitas asal tersebut secara total sehingga di tempat komunitas asal terbentuk habitat baru. Gangguan ini dapat terjadi secara alami, misalnya tanah longsor, letusan gunung berapi, endapan lumpur yang baru di sungai, dan endapan pasir di pantai. Gangguan dapat pula karena perbuatan manusia misalnya penambangan timah, batu bara, dan minyak bumi. Namun dalam makalah ini akan dibahas tentang suksesi primer mengenai letusan gunung merapi yang terjadi pada tahun 2006 dan 2010.

Definisi Suksesi
Suksesi merupakan proses perubahan dalam komunitas yang berlangsung menuju ke satu arah secara teratur. Suksesi terjadi sebagai akibat dari modifikasi lingkungan fisik dalam komunitas atau ekosistem. Proses suksesi berakhir dengan suatu komunitas atau ekosistem yang disebut ekosistem klimaks. Komunitas klimaks adalah suatu komunitas terakhir dan stabil (tidak berubah) yang mencapai keseimbangan dengan lingkungannya. Dalam tingkat klimaks tersebut, komunitas atau ekosistem telah mencapai keadaan keseimbangan yang juga disebut dengan homeostatis atau keseimbangan, yaitu suatu komunitas yang mampu mempertahankan kestabilan komponennya dan dapat bertahan dan berbagai perubahan dalam sistem secara keseluruhan.

Tansley (1920) dalam Tim Dosen Ekologi Tumbuhan (2014:105), mendefinisikan suksesi sebagai berikut : “Suksesi adalah perubahan yang perlahan-lahan dari komunitas tumbuhan dalam suatu daerah tertentu dimana terjadi pengalihan dari suatu jenis tumbuhan oleh jenis tumbuhan lainnya (pada tingkat populasi).
Menurut Tim Dosen Ekologi Tumbuhan (2014 : 106) Perubahan vegetasi di alam sebenarnya bisa dibedakan dalam tiga bentuk umum, yaitu :
a.       Perubahan fenologis yang tidak saja terjadi karena adanya masa-masa berbunga, berbuah, berbiji, berumbi, gugur daun dan sebagainya, tetapi juga terjadi pertumbuhan jenis-jenis tumbuhan tertentu dalam perjalanan waktu atau musim yang memperkaya komunitas tumbuhan itu. Misalnya pada habitat padang pasir dengan hadirnya tumbuhan setahun dan geofita setelah hujan turun, dan ini terjadi satu kali untuk beberapa tahun.
b.      Perubahan suksesi sekunder, yakni perubahan vegetasi yang nonfenologis dan terjadi dalam ekosistem yang telah matang. Ini termasuk suksesi normal, berirama dan katastrofik seperti yang dikalsifikasikan oleh Gams. Suatu suksesi sekunder berasal hanya dari suatu kerusakan ekosistem secara tidak menyeluruh atau tidak total kerusakannya. Misalnya pada daerah pertanian setelah terjadi panenan, juga pada daerah hutan akibat terjadinya pohon tumbang. Pada suksesi sekunder ini dapat bersifat satu arah atau juga siklik.
c.       Perubahan suksesi primer, berlainan dengan suksesi sekunder, pembentukan komunitas tumbuhan pada suksesi primer ini berasal dari suatu substrat yang sebelumnya tidak pernah mendukung suatu komunitas tumbuhan. Substrat baru yang terbentuk bisa berasal dari sistem air sebagai hasil dari proses pendangkalan, suksesi yang terjadi disebut suksesi hidroseres (Clements) atau hidrark (Cooper). Bila substrat baru berasal dari sistem darat, batuan, pasir, dan sebagainya maka suksesinya disebut suksesi xeroseres atau xerark.
Menurut Weaver dan Clements (1938) dalam anonim (2013:1) tahapan dan proses menuju sukssesi vegetasi terbagi  dua yaitu di hydrosere dan xerosere.
a.       Hydrosere
Dalam hydisere ini ada enam tahapan sampai akhirnya menuju klimaks yaitu sebagai berikut:
1)      Submerged Stage (Terendam)
Tanaman berada disekitar pinggir danau atau genangan air, dimana kedalamannya kurang dari 20 kaki dan tanaman yang ada banyak berupa tanaman yang terendam (submerged). Tanaman berbunga (Spermatophyta) seperti Elodea, Potamogeton, Ceratophyllum,  dan Najas. Lumut-lumutan seperti Ranunculus, Utricularia, dan Vallisneria serta alga seperti Chara.
2)      Floating Stage (Mengambang)
Kedalamannya antara 6 sampai 8 kaki saja dengan spesies tanaman mengambang (floating) yang mulai bermacam-macam.
Jenis-jenis lili seperti Nymphaea dan Castalia serta ada juga Potamogeton (pondweeds) danPolygonum.
3)      Reed-Swamp Stage (Buluh/Rawa)
Dengan keadaan tanah yang selalu digenangi air memungkinkan untuk tanaman dapat terus berakar dengan baik. Ada 3 tanaman dominant pada tahap ini yaituPhragmites communis, Scirpus validus, dan Typha latifolia. Selain itu masih ada tanaman yang lain seperti Saggitaria, Alisma, Acorus, Polygonum, dan lain-lain.
4)      Sedge-Meadow Stage (Padang Rumput Alang-Alang)
Jumlah air sudah menurun dan spesies tanaman juga memperluas daerahnya dan didukung dengan jumlah cahaya yang bagus. Tanaman yang ada sepertiEleocharis, Carex, Juncus, dan lain-lain.
5)      Woodland Stage (Hutan)
Tanah sudah semakin banyak mengandung humus dan sudah banyak jenis pohon-pohon pada tahap ini. Tanaman yang ada seperti Salix, Cornus,Cephalanthus, Alnus, dan lain-lain.
6)      Climax Forest
Humus dan kelembaban tanah meningkat karena didukung oleh bakteri dan jamur serta organism yang ada di dalamnya.

b.      Xerosere
Dalam xerosere ini ada enam tahapan sampai akhirnya menuju klimaks yaitu sebagai berikut:
1)      Crustose-lichen stage (Tahap Lichen-kerak)
Spora dibawa oleh angin atau secara fragmentasi lichen. Contohnya Soredia berada pada permukaan batu yang halus. Ada juga jenis yang lain yang ada pada tahap ini seperti Rhizocarpon, Lecidea, Rinodina, Lecanora, dan lain-lain.
2)      Foliose-Lichen Stage (Tahap Lichen-Lembaran)
Tanaman yang ada seperti Dermatocarpon, Parmelia, Umbilicaria, dan lain-lain.
3)      Moss-Stage (Tahap Lumut)
Tanaman yang ada seperti Black moss (Grimmia), hair moss (Polytrichum juniperum, P. piliferum, P. commune), dan lain-lain.
4)      Herbaceous Stage (Tahap Herbaceous)
Evaporasi dan temperature ekstrim menurun. Populasi bakteri, jamur, dan hewan meningkat. Tanaman yang ada seperti Bluegrass (Aristida, Festuca, dan Poa),Heuchera, Potentilla, goldenrods (Solidago), dan lain-lain.
5)      Shrub-Stage (Tahap Semak)
Angin bertiup dan kelembaban mulain meningkat pada tahap ini. Tanaman yang ada pada tahap ini seperti Symphoricarpos, Rhus, Physocarpus, dan lain-lain.
6)      Climax forest
Pada awalnya, spesies pertamanya adalah pohon yangbersifat xeric, tetapi lama-kelaman akan berubah seiring dengan semakin bagusnya lingkungan.
Suksesi dapat dibedakan menjadi dua macam atau dua jenis (Anonim, 2008). Jenis-jenisnya antara lain :
a.       Suksesi primer
Suksesi primer dapat terjadi apabila komunitas mendapat gangguan yang mengakibatkan komunitas awal hilang secara total sehingga terbentuk habitat baru. Gangguan yang dapat menyebabkan suksesi primer dapat terjadi secara alami maupun dipengaruhi campur tangan manusia. Contoh gangguan secara alami antara lain tanah longsor, letusan gunung merapi, endapan lumpur di sungai dan endapan pasir di pantai. Sedangkan contoh gangguan yang disebabkan oleh manusia adalah kegiatan penambangan ( batu bara, timah, dan minyak bumi ).
b.      Suksesi sekunder
Suksesi sekunder dapat terjadi apabila komunitas mendapat gangguan, tetapi hanya mengakibatkan rusaknya komunitas. Pada suksesi ini, komunitas masih tampak substrat lama dan sebagian kehidupan lama masih ada. Suksesi ini dapat terjadi secara alami maupun buatan (disebabkan oleh manusia). Contoh gangguan yang disebabkan secara alami adalah banjir, gelombang tsunami, kebakaran hutan, dan angin ribut. Sedangkan contoh gangguan yang disebabkan oleh manusia adalah penebangan hutan, pembukaan hutan denan membuka hutan , dan pembakaran padang rumput dengan sengaja.


Penyebab Terjadinya Suksesi
Suksesi dapat terjadi apabila disebabkan oleh beberapa faktor. Faktor tersebut adalah sebagai berikut:
a.       Iklim
Tumbuhan tidak akan dapat teratur dengan adanya variasi yang lebar dalam waktu yang lama. Fluktuasi keadaan iklim kadang-kadang membawa akibat rusaknya vegetasi baik sebagian maupun seluruhnya. Dan akhirnya suatu tempat yang baru (kosong) berkembang menjadi lebih baik (daya adaptasinya besar) dan mengubah kondisi iklim. Kekeringan, hujan salju/air dan kilat seringkali membawa keadaan yang tidak menguntungkan pada vegetasi.
b.      Topografi
Suksesi terjadi karena adanya perubahan kondisi tanah, antara lain:
1)      Erosi:
Erosi dapat terjadi karena angin, air dan hujan. Dalam proses erosi tanah menjadi kosong kemudian terjadi penyebaran biji oleh angin (migrasi) dan akhirnya proses suksesi dimulai.
2)      Pengendapan (denudasi):
Erosi yang melarutkan lapisan tanah, di suatu tempat tanah diendapkan sehingga menutupi vegetasi yang ada dan merusakkannya. Kerusakan vegetasi menyebabkan suksesi berulang kembali di tempat tersebut.
c.     Biotik
Pemakan tumbuhan seperti serangga yang merupakan pengganggu di lahan pertanian demikian pula penyakit mengakibatkan kerusakan vegetasi. Di padang penggembalaan, hutan yang ditebang, panen menyebabkan tumbuhan tumbuh kembali dari awal atau bila rusak berat berganti vegetasi.


Faktor yang Menyebabkan Kecepatan Suksesi
Berikut adalah faktor yang menyebabkan kecepatan suksesi di setiap tempat dapat berbeda. Faktor tersebut adalah sebagai berikut:
a.       Luasnya habitat asal yang mengalami kerusakan.
b.      Jenis-jenis tumbuhan di sekitar ekosistem yang terganggu.
c.       Kecepatan pemencaran biji atau benih dalam ekosistem tersebut.
d.      Iklim, terutama arah dan kecepatan angin yang membawa biji, spora. dan benih lain serta curah hujan yang sangat berpengaruh dalam proses perkecambahan.
e.       Jenis substrat baru yang terbentuk.
f.       Sifat – sifat jenis tumbuhan di sekitar tempat terjadinya suksesi.


Proses Suksesi di Gunung Merapi Yogyakarta
Gunung Merapi (± 2911 m dpl) merupkan bagian dari Ring of Fire yang terletak di sisi selatan kepulauan Nusantara (Pulau Jawa). Dimulai dari gugus Gunung Halimun-Salak, Gede-Pangrango dan Ceremai di Jawa Barat, dilanjutkan Selamet-Sindoro-Sumbing-Merbabu-Merapi-Lawu di Jawa bagian tengah, dan makin ke timur ada Arjuno-Welirang-Kelud-Raung dan puncak tertinggi gunung Semeru.

Berdasarkan strukturnya, Merapi tergolong tipe strato (stratovolcano), berkarakter curam dengan kemiringan ±30o, berbentuk konus (mengerucut) dengan kubahnya terbentuk dari semburan dan aliran/lelehan lava pijar. Kubah lava ini akan mengalami guguran secara periodik (erupsi) yang menghasilkan bentukan awan panas khas, yang populer dengan sebutan wedhus gembel.

Catatan aktivitas vulkaniknya menunjukkan bahwa Merapi adalah gunung paling aktif di Indonesia. Letusan efusif yang menjadi ciri khasnya terjadi secara periodik dalam rentang waktu relatif pendek. Erupsi yang terjadi pada tahun 2006, mengalirkan gas dan material panas dengan suhu 1000°C – 1500°C sejauh ± 5 km di atas permukaan Kali Gendol di lereng selatan. Erupsi lebih besar terjadi menjelang akhir Oktober 2010 yang lalu akibat dari letusan yang tidak hanya efusif tetapi juga sedikit eksplosif.

Erupsi ini tercatat yang paling besar dalam kurun waktu 100 tahun terakhir dengan produk vulkanik yang mampu menjangkau ±10 km dari puncak. Peristiwa letusan dua periode terakhir, serta peristiwa lain yang terjadi setelah letusan, memberi dampak sangat signifikan bagi kondisi lingkungan sekitar Gunung Merapi. Rusaknya hutan lereng selatan dan sekitarnya akibat terjangan awan panas, timbunan material panas yang berupa batu dan pasir di atas permukaan tanah di area aliran erupsi yang menjadi banjir lahar dingin bila terjadi hujan, rusaknya titik-titik (spots) sumber air, adalah contoh-contoh akibat yang ditimbulkan.

Awan panas (wedhus gembel) yang menyapu permukaan lereng selatan (sejauh ±5 km saat letusan 2006 dan ±10 km pada tahun 2010) merupakan contoh gejala abiotik yang mempengaruhi gejala biotik khususnya vegetasi/hutan (gambar 1). Pada kondisi normal, Gunung Merapi memberi kontribusi bagi produksi gas atmosfer, terutama gas N2 dan aerosol. Namun, aktivitas vulkaniknya menghasilkan lelehan lava pijar yang lantas terkonversi menjadi gas, debu dan material vulkanik suhu tinggi yang dapat merusak komunitas hutan di lereng selatan yang dilaluinya dan mempengaruhi kondisi ekologi tanah.

Perubahan ekstrim berupa rusaknya atau bahkan hilangnya vegetasi berakibat terjadinya ketidakseimbangan ekosistem. Ketiadaan vegetasi tentu menghilangkan fungsi ekologi produksi gas oksigen bagi wilayah hilir Gunung Merapi dan ini tentu memberi dampak bagi kehidupan yang ada di sana. Dengan kata lain, siklus daur biogeokimia, khususnya daur oksigen dan nitrogen tentu akan mengalami perubahan.
                        

contoh suksesi
Gambar 2.1. (a) meluncurnya awan panas erupsi Merapi ke lereng selatan, (b) kondisi hutan lereng selatan Merapi pasca erupsi 2006, (c) kondisi hutan lereng selatan Merapi pasca erupsi 2006 sebelum erupsi 2010, (d) kondisi lereng selatan Merapi pasca erupsi 2010.

Serupa dengan fenomena pertama, banjir lahar dingin yang terjadi akibat hanyutnya timbunan material pasir dan batuan oleh aliran air hujan secara terus menerus, secara fisik dapat merusak dan merubah topografi teresterial (daratan) serta lingkungan air dan tanah.

Fenomena yang terjadi di wilayah Magelang, seperti ditunjukkan gambar 2, menggambarkan betapa interaksi antar dua faktor abiotik tersebut mampu menimbulkan kekuatan alamiah luar biasa yang sanggup merubah kondisi lingkungan dan kehidupan. Berubahnya topografi aliran sungai, rusaknya sistem sumber daya khususnya air, rusaknya area produktif persawahan, merupakan gejala yang relevan dengan persoalan dinamika ekosistem.


Gambar 2.2. (a) topografi daratan pasca banjir lahar dingin di wilayah Magelang,
(b) kondisi area persawahan/perkebunan yang rusak akibat terjangan banjir lahar dingin.

Pasca erupsi, secara alamiah hutan di lereng selatan Merapi yang mengalami kerusakan akan kembali menuju ke kesetimbangan ekosistem yang baru melalui proses suksesi. Fakta suksesi ini sebelumnya telah ditemukan pasca erupsi tahun 2006. Fakta ini juga dapat ditemukan pada situs pasca erupsi tahun 2010, seperti yang tampak pada gambar 3.  Proses suksesi yang terjadi di Merapi termasuk dalam kategori suksesi primer, akibat dari tidak tersisanya vegetasi di area yang terkena langsung dampak semburan produk vulkaniknya. Kecepatan suksesi dipengaruhi oleh beberapa faktor, seperti luasan daerah komunitas awal yang rusak, spesies tumbuhan yang muncul atau terdapat di lingkungan sekitar area tersuksesi, jenis substrat baru yang terbentuk dan kondisi iklim.

Pasca erupsi ini terjadi, mengalami proses suksesi yang awalnya hanya terdapat tumbuhan perintis yaitu tubuhan tingkat rendah, seperti lumut dan paku-pakuan perintis ataupun tumbuhan-tumbuhan sisa dari yang lolos dari kerusakan erupsi. Kemudian akan tumbuh tumbuhan-tumbuhan tingkat tinggi seperti Pinus merkusii, Accacia decurrens, dan lain-lain. Proses suksesi ini terjadi secara bertahap disebabkan oleh reaksi biotik dan berlangsung melalui sederetan tahapan dari tahapan pelopor menuju tahapan klimaks.


Gambar 2.3. (a) & (b) gejala dinamika perubahan ekosistem wilayah Kali Kuning, (c)-(f) beberapa contoh spesies yang ditemukan di wilayah Kali Kuning sebagai bagian gambaran dinamika suksesi pasca erupsi Merapi 2010. (c)-(e) merupakan tumbuhan perintis.




Gambar 2.4. (a)-(f) beberapa contoh tumbuhan yang ditemukan yang merupakan tumbuhan tingkat tinggi sebagai fakta proses suksesi akan mencapai klimaks (komunitas akan mencapai keseimbangan). (g) para peneliti menganalisis vegetasi tumbuhan bawah di lahan terdampak erupsi setelah 18 bulan untuk mengetahui kemampuan rekolonisasi alami (suksesi alam). (h) keadaan kali kuning pasca erupsi merapi tahun 2010.
Gambar 2.4. (a)-(f) beberapa contoh tumbuhan yang ditemukan yang merupakan tumbuhan tingkat tinggi sebagai fakta proses suksesi akan mencapai klimaks (komunitas akan mencapai keseimbangan). (g) para peneliti menganalisis vegetasi tumbuhan bawah di lahan terdampak erupsi setelah 18 bulan untuk mengetahui kemampuan rekolonisasi alami (suksesi alam). (h) keadaan kali kuning pasca erupsi merapi tahun 2010.

Sejalan dengan proses suksesi sekunder di Gunung Merapi, Yogyakarta yang menjadi hutan klimaks, maka keberadaan fauna di sekitar Gunung Merapi pun semakin melimpah. Berikut adalah daftar hewan yang berada di sekitar Gunung Merapi Yogyakarta.

Keragaman Jenis Burung
Di Resort Turi-Cangkringan-Pakem ditemukan 59 jenis burung sebanyak 625 individu yang termasuk dalam 28 famili dan nilai indeks Shannon-Wiener sebesar 2,81(sedang).
Tabel 2.1 Kelimpahan relatif jenis dan Indeks Shannon-Wiener keragaman jenis burung di wilayah Resort Turi-Cangkringan-Pakem TN Gunung Merapi
No
Nama Jenis
Nama Ilmiah
Famili
Jumlah
1
Alap-Alap Sapi
Falco moluccensis
Falconidae
1
2
Ayam Hutan Hijau
Gallus varius
Phasianidae
2
3
Ayam Hutan Merah
Gallus gallus
Phasianidae
3
4
Bentet Kelabu
Lanius schach
Laniidae
3
5
Berencet Kerdil
Pnoepyga pusilla
Timaliidae
9
6
Betet Biasa
Psittacula alexandri
Psittacidae
32
7
Burung Madu Gunung
Aethopyga eximia
Nectariniidae
22
8
Burung Madu Sriganti
Cinnyris jugularis
Nectariniidae
2
9
Cabe Gunung
Dicaeum sanguinolentum
Dicaeidae
4
10
Caladi Ulam
Dendrocopos macei
Picidae
1
11
Cekakak Jawa
Halcyon cyanoventris
Alcedinidae
1
12
Cica Daun Sayap Biru
Chloropsis cochinchinensis
Chloropseidae
2
13
Cica Kopi Melayu
Pomatorhinus montanus
Timaliidae
3
14
Cica Koreng Jawa
Megalurus palustris
Sylviidae
10
15
Cikrak Daun
Phylloscopus trivirgatus
Sylviidae
10
16
Cinenen Kelabu
Orthotomus ruficeps
Sylviidae
6
17
Cinenen Pisang
Orthotomus sutorius
Sylviidae
7
18
Cipoh Kacat
Aegithina tiphia
Aegithinidae
1
19
Ciung Batu Kecil
Myophonus glaucinus
Turdidae
5
20
Cucak Gunung
Pycnonotus bimaculatus
Pycnonotidae
6
21
Cucak Kutilang
Pycnonotus aurigaster
Pycnonotidae
27
22
Dederuk Jawa
Streptopelia bitorquata
Columbidae
3
23
Elang Alap
Accipitridae sp.
Accipitridae
1
24
Elang Bido
Spilornis cheela
Accipitridae
1
25
Elang Hitam
Ictinaetus malayensis
Accipitridae
1
26
Elang Jawa
Spizaetus bartelsi
Accipitridae
1
27
Empuloh Janggut
Criniger bres
Pycnonotidae
2
28
Gagak Kampung
Corvus macrorhynchos
Corvidae
3
29
Gagak Rumah
Corvus splendens
Corvidae
2
30
Gelatik Batu Kelabu
Parus major
Paridae
7
31
Jingjing Batu
Hemipus hirundinaceus
Campephagidae
2
32
Kacamata Biasa
Zosterops palpebrosus
Zosteropidae
158
33
Kangkok Ranting
Cuculus saturatus
Cuculidae
4
34
Kapinis Rumah
Apus nipalensis
Apodidae
5
35
Kepudang Kuduk Hitam
Oriolus chinensis
Oriolidae
4
36
Kepudang Sungu Jawa
Coracina javensis
Campephagidae
1
37
Kipasan Ekor Merah
Rhipidura phoenicura
Rhipiduridae
6
38
Meninting
Enicurus leschenaulti
Turdidae
2
39
Munguk Beledu
Sitta frontalis
Sittidae
2
40
Opior Jawa
Lophozosterops javanicus
Zosteropidae
4
41
Pelanduk Semak
Malacocincla sepiarium
Timaliidae
11
42
Sepah Gunung
Pericrocotus miniatus
Campephagidae
2
43
Serindit Jawa
Loriculus pusillus
Psittacidae
9
44
Sikatan Belang
Ficedula westermanni
Muscicapidae
8
45
Sikatan Ninon
Eumyias indigo
Muscicapidae
3
46
Sikatan x
Muscicapidae sp.
Muscicapidae
1
47
Sikatan y
Muscicapidae sp.
Muscicapidae
1
48
Srigunting Kelabu
Dicrurus leucophaeus
Dicruridae
4
49
Takur Bultok
Megalaima lineata
Capitonidae
2
50
Takur Tohtor
Megalaima armillaris
Capitonidae
1
51
Takur Tulung tumpuk
Megalaima javensis
Capitonidae
3
52
Tekukur Biasa
Streptopelia chinensis
Columbidae
17
53
Tepus Pipi Perak
Stachyris melanothorax
Timaliidae
5
54
Walet Linchi
Collocalia linchi
Apodidae
157
55
Walet Sarang
Collocalia sp
Apodidae
10
56
Walik Kembang
Ptilinopus melanospila
Columbidae
1
57
Walik Kepala Ungu
Ptilinopus porphyreus
Columbidae
1
58
Wergan Jawa
Alcippe pyrrhoptera
Timaliidae
8
59
Wiwik Uncuing
Cacomantis sepulcralis
Cuculidae
15
JUMLAH TOTAL
625
Sumber : http://ksn-merapi.com/index.php/detail/202


Gambar 2.5. (a) Burung elang jawa, (b) Burung elang hitam, (c) Burung kipasan ekor merah



Satwa Mamalia
Di Resort- Turi-Cangkringan-Pakem ditemukan ditemukan 8 jenis berjumlah 47 individu dan nilai indeks sebesar 1,29 (rendah).

No
Nama Jenis
Nama Ilmiah
Famili
Jumlah
1
Babi hutan
Sus scrofa
Suidae
1
2
Bajing
Sundasciurus sp.
Sciuridae
5
3
Kelelawar ladam umum
Rhinopholus pusillus
Rhinolophidae
10
4
Kucing Hutan
Felis bengalensis
Felidae
1
5
Lutung Jawa
Trachypithecus auratus
Cercopithecidae
2
6
Monyet Ekor Panjang
Macaca fascisularis
Cercopithecidae
23
7
Musang
Paradoxus sp.
Viveridae
4
8
Musang Luwak
Paradoxurus hermaphroditus
Viveridae
1
JUMLAH TOTAL
47
Tabel 2.1 Kelimpahan relatif jenis mamalia Resort Turi-Cangkringan-Pakem SPTN I TN Gunung Merapi

Gambar 2.6. (a) Musang luwak, (b) Lutung Jawa, (c) Monyet ekor pangjang.
Gambar 2.6. (a) Musang luwak, (b) Lutung Jawa, (c) Monyet ekor pangjang.
                     


Tabel 2.3 Mamalia yang Tidak Ditemukan Pasca Erupsi
No
Nama Jenis
Nama Ilmiah
Keterangan
1
Kidang Totol
Axis axis Reintroduksi
Tahun 1990-an
2
Macan Tutul
Panthera pardus
Alami
3
Kubung Malaya
Cynocephalus variegatus
Alami
4
Kukang
Nictycebus javanicus
Alami
5
Teledu Sigung
Mydaus javanensis
Alami
6
Garangan
Herpestes javanicus
Alami
7
Kucing Merah
Felis badia
Alami
Sumber : http://ksn-merapi.com/index.php/detail/202


Share on Facebook
Share on Twitter
Share on Google+
Tags :

Related : Pengertian, Contoh dan Faktor-faktor yang Mempengaruhi Suksesi

Comments
0 Comments

0 komentar:

Post a Comment

Loading...
Loading...