Penyimpangan Semu Hukum Mendel, Hukum pewarisan Mendel adalah hukum mengenai pewarisan sifat pada organisme yang dijabarkan oleh Gregor Johann Mendel dalam karyanya 'Percobaan mengenai Persilangan Tanaman'. Hukum segregasi bebas
menyatakan bahwa pada pembentukan gamet (sel kelamin), kedua gen induk (Parent) yang merupakan pasangan alel akan memisah sehingga
tiap-tiap gamet menerima satu gen dari induknya. Hukum kedua Mendel menyatakan bahwa bila dua individu mempunyai dua pasang atau lebih sifat, maka diturunkannya sepasang sifat
secara bebas, tidak bergantung pada pasangan sifat yang lain. Dengan kata lain, alel dengan gen sifat yang berbeda tidak saling memengaruhi. Hal ini menjelaskan bahwa
gen yang menentukan e.g. tinggi tanaman dengan warna bunga suatu tanaman, tidak
saling memengaruhi.
![]() |
Penyimpangan Semu Hukum Mendel |
Penyimpangan
Semu Hukum Mendel
Dalam
kondisi normal, persilangan monohibrida menghasilkan perbandingan individu
keturunan 3 : 1 atau 1 : 2 : 1, dan persilangan dihibrida menghasilkan individu
keturunan 9 : 3 : 3 : 1. Dalam prakteknya, hasil persilangan Mendel dapat
menghasilkan perbandingan individu yang tidak tepat. Pada persilangan
dihibrida, dapat dihasilkan perbandingan yang merupakan variasi dari
perbandingan 9 : 3 : 3 : 1 yaitu 12 : 3 : 1; 9 ; 7 atau 15 : 1. Meskipun
demikian, perbandingan tersebut tetap mengikuti aturan Hukum Mendel. Oleh
karena itu, hasil perbandingan tersebut dikatakan sebagai penyimpangan semu
Hukum Mendel.
Penyimpangan
tersebut terjadi karena adanya beberapa gen yang saling memengaruhi dalam
menghasilkan fenotip. Meskipun demikian, perbandingan fenotip tersebut masih
mengikuti prinsip-prinsip Hukum Mendel. Penyimpangan semu Hukum Mendel tersebut
meliputi: interaksi gen, kriptomeri,
polimeri, epistasis-hipostasis, gen-gen komplementer, gen dominan rangkap dan
gen penghambat.
Beberapa peristiwa yang menunjukkan
penyimpangan semu di antaranya epistasis dan hipostasis, kriptomeri, interaksi
beberapa pasangan alel, polimeri, serta gen komplementer.
1. Epistasis dan Hipostasis
Epistasis dan hipostasis merupakan salah satu bentuk
interaksi gen dalam hal ini gen dominan mengalahkan gen dominan lainnya yang
bukan sealel. Gen dominan yang menutup ekspresi gen dominan lainnya disebut epistasis,
sedangkan gen dominan yang tertutup itu disebut hipostasis.
Peristiwa epistasis dan hipostasis terjadi pada warna
umbi lapis pada bawang (Allium sp.), warna kulit gandum, warna bulu ayam, warna
rambut mencit, dan warna mata pada manusia.
Peristiwa epistasis dapat dibedakan menjadi tiga,
yaitu epistasis dominan, epistasis resesif, serta epistasis dominan dan
resesif.
a).
Epistasis Dominan
Pada epistasis dominan terdapat satu gen dominan yang
bersifat epistasis. Misalnya warna umbi lapis pada bawang (Allium sp.). A
merupakan gen untuk umbi merah dan B merupakan gen untuk umbi kuning. Gen merah
dan kuning dominan terhadap putih. Perkawinan antara tanaman bawang berumbi
lapis kuning homozigot dengan yang merah homozigot menghasilkan tanaman F1 yang
berumbi lapis merah.
Keturunan F2 terdiri atas 16 kombinasi dengan
perbandingan 12/16 merah : 3/16 kuning : 1/16 putih atau 12 : 3 : 1.
Perbandingan itu terlihat menyimpang dari hukum Mendel, tetapi ternyata tidak.
Perbandingan 9 : 3 : 3 : 1 untuk keturunan perkawinan dihibrid hanya mengalami
modifikasi saja, yaitu 9 : 3 : 3 : 1 menjadi 12 : 3 : 1.
Perhatikan diagram persilangan berikut.
b) Epistasis Resesif
Pada peristiwa epistasis resesif terdapat suatu gen
resesif yang bersifat epistasis terhadap gen dominan yang bukan alelnya
(pasangannya). Gen resesif tersebut harus dalam keadaan homozigot, contohnya
pada pewarisan warna rambut tikus. Gen A menentukan warna hitam, gen a
menentukan warna abu-abu, gen C menentukan enzim yang menyebabkan timbulnya
warna dan gen c yang menentukan enzim penghambat munculnya warna. Gen C
bersifat epistasis. Jadi, tikus yang berwarna hitam memiliki gen C dan A.
Perhatikan diagram persilangan berikut.
Jadi,
perbandingan fenotip F2 = hitam : abu-abu : putih = 9 : 3 : 4.
c) Epistasis Dominan dan Resesif
Epistasis dominan dan resesif (inhibiting gen)
merupakan penyimpangan semu yang terjadi karena terdapat dua gen dominan yang
jika dalam keadaan bersama akan menghambat pengaruh salah satu gen dominan
tersebut. Peristiwa ini mengakibatkan perbandingan fenotip F2 = 13 : 3.
Contohnya ayam leghorn putih mempunyai fenotip IICC dikawinkan dengan ayam
white silkre berwarna putih yang mempunyai genotip iicc.
Perhatikan diagram
berikut.
Catatan:
C = gen yang
menghasilkan warna.
c = gen yang
tidak menghasilkan warna (ayam menjadi putih).
I = gen yang
menghalang-halangi keluarnya warna (gen ini disebut juga gen penghalang atau
inhibitor).
i = gen yang
tidak menghalangi keluarnya warna. Coba perhatikan diagram hasil persilangan F1
di atas. Meskipun gen C mempengaruhi munculnya warna bulu, tetapi karena
bertemu dengan gen I (gen yang menghalangi munculnya warna), maka menghasilkan
keturunan dengan fenotip ayam berbulu putih. Jadi, perbandingan fenotip:
F2 = ayam
putih : ayam berwarna
=13/16 : 3/16 = 13 : 3
2. Kriptomeri
Kriptomeri adalah peristiwa gen dominan yang
seolah-olah tersembunyi bila berada bersama dengan gen dominan lainnya, dan
akan terlihat bila berdiri sendiri. Correns
pernah menyilangkan tumbuhan Linaria maroccana berbunga merah galur
murni dengan yang berbunga putih juga galur murni. Dalam persilangan tersebut
diperoleh F1 semua berbunga ungu, sedangkan F2 terdiri atas tanaman dengan
perbandingan berbunga ungu : merah : putih = 9 : 3 : 4.
Warna bunga Linaria (ungu, merah, dan putih)
ditentukan oleh pigmen hemosianin yang terdapat dalam plasma sel dan sifat
keasaman plasma sel. Pigmen hemosianin akan menampilkan warna merah dalam
plasma atau air sel yang bersifat asam dan akan menampilkan warna ungu dalam
plasma sel yang bersifat basa.
Warna bunga Linaria maroccana ditentukan oleh ekspresi
gen-gen berikut.
1) Gen A, menentukan ada bahan dasar pigmen
antosianin.
2) Gen a, menentukan tidak ada bahan dasar pigmen
antosianin.
3) Gen B, menentukan suasana basa pada plasma sel.
4) Gen b, menentukan suasana asam pada plasma sel.
Persilangan antara Linaria maroccana bunga merah
dengan bunga putih menghasilkan keturunan seperti dijelaskan pada diagram
berikut.
Persilangan tersebut dihasilkan rasio fenotip F2 =
ungu : merah : putih = 9 : 3 : 4.
3. Interaksi Beberapa Pasangan Alel (Atavisme)
Pada permulaan abad ke-20, W. Baterson dan R.C. Punnet
menyilangkan beberapa varietas ayam negeri, yaitu ayam berpial gerigi (mawar),
berpial biji (ercis), dan berpial bilah (tunggal). Pada persilangan antara ayam
berpial mawar dengan ayam berpial ercis, menghasilkan semua ayam berpial sumpel
(walnut) pada keturunan F1. Varietas ini sebelumnya belum dikenal.
Pada keturunan F2 diperoleh empat macam fenotip, yaitu
ayam berpial walnut, berpial mawar, berpial ercis, dan berpial tunggal dengan
perbandingan 9 : 3 : 3 : 1. Perbandingan ini sama dengan perbandingan F2 pada
pembastaran dihibrid.
Perhatikan diagram persilangan di bawah.
Berdasarkan diagram persilangan tersebut terdapat
penyimpangan dibandingkan dengan persilangan dihibrid. Penyimpangan yang
dimaksud bukan mengenai perbandingan fenotip, tetapi munculnya sifat baru pada
F1 dan F2. Keturunan F1 berfenotip ayam berpial walnut atau sumpel, tidak
menyerupai salah satu induknya. Sifat pial sumpel atau walnut (F1) merupakan
interaksi dua faktor dominan yang berdiri sendiri-sendiri dan sifat pial
tunggal (F2) sebagai hasil interaksi dua faktor resesif.
4. Polimeri
Polimeri adalah pembastaran heterozigot dengan banyak
sifat beda yang berdiri sendiri-sendiri, tetapi mempengaruhi bagian yang sama
pada suatu organisme. Peristiwa polimeri pertama kali dilaporkan oleh
Nelson-Ehle, melalui percobaan persilangan antara gandum berbiji merah dengan
gandum berbiji putih.
Perhatikan diagram persilangan berikut.
Berdasarkan diagram di atas dihasilkan perbandingan
genotip F2 sebagai berikut.
9 M1_M2_ = merah 3 m1m1M2_ = merah
3 M1_m2m2 =
merah 1 m1m1m2m2 = putih
5. Gen Komplementer
Gen komplementer adalah gen-gen yang berinteraksi dan
saling melengkapi. Kehadiran gen-gen tersebut secara bersama-sama akan
memunculkan karakter (fenotip) tertentu. Sebaliknya, jika salah satu gen tidak
hadir maka pemunculan karakter (fenotip) tersebut akan terhalang atau tidak
sempurna.
Perhatikan contoh berikut.
Pemunculan suatu pigmen merupakan hasil interaksi dua
gen, yaitu gen C dan gen P.
Gen C : mengakibatkan munculnya bahan mentah pigmen.
Gen c : tidak menghasilkan pigmen.
Gen P : menghasilkan enzim pengaktif pigmen.
Gen p : tidak mampu menghasilkan enzim.
Perhatikan persilangan yang menunjukkan adanya gen
komplementer antara individu CCpp (putih) dengan individu ccPP (putih) pada
diagram berikut.
Gen-Gen Rangkap yang
Mempunyai Pengaruh Kumulatif
Miyake dan Imai (Jepang) menemukan bahwa pada tanaman
gandum (Hordeum vulgare) terdapat biji yang kulitnya berwarna ungu tua, ungu,
dan putih. Jika gen dominan A dan B terdapat bersama-sama dalam genotip, kulit
buah akan berwarna ungu tua. Bila terdapat salah satu gen dominan saja (A atau
B), kulit buah berwarna ungu. Absennya gen dominan menyebabkan kulit buah
berwarna putih. Perhatikan diagram persilangan berikut.
Berdasarkan diagram di atas dihasilkan
perbandingan genotip F2 sebagai berikut.
9 A_B_ = ungu tua
3 A_bb = ungu
3 aaB_ = ungu
1 aabb = putih
Attractive part of content. I just stumbled
ReplyDeleteupon your site and in accession capital to say that I acquire actually
enjoyed account your blog posts. Any way I will be subscribing in your feeds or even I achievement you access constantly rapidly.