materi kuliah biologi, biologi kesehatan, biologi sel, karakteristik mahluk hidup, klasifikasi mahluk hidup, plantae, animalia dan kerugian dan keuntungan biologi bagi kehidupan

Thursday, 19 January 2017

Teori-teori Evolusi Sebelum Carles Darwin

Pada masa sekarang ini dapat dikatakan hampir semua ahli biologi dapat menerima teori evolusi biologis atau disingkat teori evolusi, walaupun teori tersebut disusun berdasarkan bukti-bukti tak langsung. Pokok dari teori  evolusi itu adalah bahwa hewan, tumbuhan, dan juga manusia dalam berbagai abad yang lalu telah berkembang dari makhluk yang berbentuk lebih sederhana. Semuanya itu melalui proses evolusi yang telah berlangsung beribu-ribu tahun, bahkan berjuta-juta tahun, dimulai dengan satu atau beberapa bentuk makhluk yang sederhana secara perlahan-lahan berkembang ke pelbagai bentuk (Widodo, 1989).


Teori-teori Evolusi Sebelum Carles Darwin
Teori-teori Evolusi Sebelum Carles Darwin
Evolusi di permukaan bumi diawali dengan asal usul kehidupan di muka bumi dan Beberapa ilmuan maupun ahli mengemukakan pendapat tentang hal ini.

 Teori tentang asal-usul kehidupan yang pernah disusun oleh para ahli di antaranya:

1.      Teori Kreasi, Menyatakan bahwa kehidupan disebabkan oleh zat supranatural pada waktu istimewa. Setiap spesies sudah ada sejak zaman dahulu. Teori ini juga disebut teori penciptaan. Penciptaan adalah kepercayaan kuno bahwa manusia, kehidupan, bumi, dan seluruh jagad raya mempunyai asal-usul secara ajaib yang dihasilkan oleh campur tangan adikodrati suatu keberadaan yang maha tinggi yang umumnya disebut Tuhan. Campur tangan ini dapat dilihat entah  sebagai suatu tindakan penciptaan dari ketiadaan (ex nihilo), atau dengan munculnya ketertiban dari keadaan kaos (chaos) yang ada sebelumnya. Di kalangan ilmuwan, ciptaanisme adalah termasuk pseudosains, yang tidak sesuai dengan metode ilmu pengetahuan.

2.      Kehidupan muncul dari benda tak hidup pada berbagai kesempatan (teori generatio spontanea) Teori ini menyatakan bahwa makhluk hidup berasal dari benda tidak hidup. Pengemukanya adalah Aristoteles. Teori ini didapat dari pengamatan terhadap lingkungan di sekitarnya. Misalnya saja bahwa cacing berasal dari tanah



3.      Teori Kosmozoa, Teori ini menyatakan bahwa kehidupan berasal dari tempat lain di alam semesta, misalnya dari meteor yang jatuh. Salah satu teori menyebutkan asal-usul kehidupan mungkin berawal dari material organik yang dibawa meteorit yang jatuh ke Bumi. Barubaru ini, para ilmuwan Badan Antariksa AS (NASA) di Pusat Antariksa Johnson (JSC) menemukan material organik dalam sebuah meteorit purba yang mendukung teori tersebut. Radio isotopnya menunjukkan bahwa molekul organik yang terkandung di dalamnya terbentuk pada suhu minus 260 derajat Celcius atau dekat titik nol absolut. Mungkin umurnya lebih tua dari matahari. Struktur material organik tersebut tidak dapat dilihat dengan mata telanjang. Bentuknya mirip dengan bola kosong dengan permukaan kulit yang kaya akan karbon. Segumpal meteorit yang besarnya tidak lebih dari sebuah anggur mengandung lebih dari sejuta material tersebut. Secara teori, struktur material organik tersebut mirip dinding sel. Ia membentuk lingkungan yang bisa melindungi senyawa organik lainnya yang memungkinkan kehidupan sel pertama dapat berkembang.


4.      Teori Kataklisma, Dikemukakan oleh Cuvier, menyatakan bahwa setiap spesies tercipta secara terpisah dalam periode tertentu, di antara periode satu dengan periode lainnya terjadi bencana, bencana inilah yang menyebabkan spesies yang ada di periode sebelumnya musnah


5.      Teori Biogenesis, Teori ini menyatakan bahwa makhluk hidup berasal dari makhluk hidup yang ada sebelumnya. Teori ini didukung oleh beberapa penelitian, misalnya saja percobaan Fransisco Redi menggunakan dua buah toples berisi daging, dari percobaan ini dapat disimpulkan bahwa ulat yang ada pada daging di dalam toples berasal dari lalat yang hinggap dan bertelur di atas daging. Kemudian ada percobaan Lazzaro Spallanzani menggunakan dua buah labu yang berisi kaldu nutrient yang dipanaskan, percobaan ini disempurnakan oleh Louis Pasteur menggunakan labu leher angsa yang diisi kaldu nutrient yang dipanaskan, hasil percobaan membuktikan ada mikroorganisme dari udara yang masuk ke kaldu dan menyebabkan air kaldu menjadi keruh.

6.      Teori Evolusi, Evolusi adalah perubahan kimiawi dan fisik yang terjadi secara perlahan-lahan yang dimulai bahkan sebelum organisme tersebut muncul.

Asal usul kehidupan melalui proses evolusi yaitu :
·         Evolusi Kimia
Dikemukakan oleh Alexander Oparin dan J.B.S. Haldane. Mereka mengemukakan hipotesis heterotrof, yaitu bahwa kondisi bumi yang primitif sangat mendukung reaksi kimia untuk sintesis bahan organik kompleks dari bahan anorganik berupa metana (CH4), amonia (NH3), hidrogen (H2), dan air (H2O) yang ada di atmosfer dan di laut pada saat itu. Bahan organik tersebut kemudian berubah menjadi makhluk hidup pertama yang heterotrof. Namun, hal ini tak dapat terjadi pada bumi yang sekarang yang kaya akan oksigen yang merupakan produk fotosintesis yang sangat tidak kondusif untuk sintesis spontan molekul kompleks. Menurut mereka, atmosfer purba hanya mengandung sedikit oksigen yang berasal dari uap gunung berapi, kondisi ini (kurang oksigen) merupakan reduktor (penangkap elektron) yang baik sehingga memudahkan penggabungan molekul-molekul sederhana membentuk molekul yang lebih kompleks. Energi untuk sintesis molekul kompleks tersebut berasal dari kilat dan petir serta radiasi sinar ultraviolet. Pada tahun 1953, Stanley Miller dan Harold Urrey menguji hipotesis ini dengan membuat perangkat yang menyerupai kondisi bumi primitif. Terdapat gelas labu berisi air yang dipanaskan untuk menyerupai keadaan laut, H2O, CH4, NH3, dan H2 sebagai atmosfer sintetis, bunga api (listrik) untuk meniru petir dan kilat, kondenser untuk melakukan kondensasi senyawa hujan dan senyawa terlarut lainnya. Hasilnya adalah larutan coklat yang ketika diuji mengandung asam amino penyusun protein yang sekaligus merupakan komponen utama penyusun makhluk hidup.

·         Evolusi Biologi
Teori ini menyatakan bahwa makhluk hidup pertama merupakan hasil dari evolusi molekul anorganik. Sesuai percobaan, asal-usul kehidupan berasal dari sintesis dan akumulasi monomer organik pada kondisi abiotik. Agregat molekul yang dihasilkan secara abiotik adalah protobion. Sel-sel hidup dapat berasal dari protobion. Protobion tak dapat melakukan reproduksi namun dapat mempertahankan lingkungan kimia di dalamnya dan menunjukkan ciri-ciri hidup lainnya yaitu metabolisme.

Konsep evolusi adalah sesuatu yang kuno dari tulisan-tulisan Yunani, di mana filsuf berspekulasi bahwa semua makhluk hidup terkait satu sama lain, meskipun dari jarak jauh. Filsuf Yunani Aristoteles dianggap “tangga hidup” di mana organisme sederhana secara bertahap berubah ke bentuk yang lebih rumit. Penentang konsep ini dipimpin oleh beberapa teolog yang menunjuk ke catatan Alkitab tentang penciptaan sebagaimana diatur dalam Kitab Kejadian. Salah satu uskup, James Ussher, menghitung bahwa penciptaan terjadi pada tanggal 26 Oktober 4004 SM, pukul 9 pagi.

Penentang argumentasi kreasionis didorong oleh ahli geologi yang mendalilkan bahwa bumi jauh lebih tua dari 4.004 tahun. Pada 1785, James Hutton mendalilkan bahwa bumi dibentuk oleh perkembangan kuno peristiwa alam, termasuk erosi, gangguan, dan pengangkatan. Pada awal 1800-an, Georges Cuvier menyatakan bahwa bumi berusia 6.000 tahun, berdasarkan perhitungan. Pada tahun 1830, Charles Lyell menerbitkan bukti mendorong umur bumi mundur beberapa juta tahun.

Di tengah kontroversi atas geologi dan umur bumi, zoologi Perancis Jean Baptiste Lamarck de menyarankan teori evolusi didasarkan pada perkembangan sifat baru dalam menanggapi perubahan lingkungan. Misalnya, leher jerapah membentang karena meraih makanan. Teori Lamarck “digunakan atau tidak digunakannya” mendapat tempat di hati, dan konsep “karakteristik yang diperoleh” diterima sampai saat Charles Darwin, bertahun-tahun kemudian.

Jadi Secara garis besar ada beberapa kategori evolusi yaitu evolusi progresif, evolusi regresif, evolusi divergen, dan evolusi konvergen. Evolusi progresif merupakan evolusi yang mengarah pada kemungkinan populasi suatu spesies dapat bertahan hidup. Sebaliknya, evolusi regresif merupakan evolusi yang mengarah pada kemungkinan populasi suatu spesies menjadi punah. Hasil akhir evolusi merupakan evolusi divergen dan evolusi konvergen. Evolusi divergen merupakan perubahan dari satu spesies menjadi banyak spesies baru. Sementara itu, evolusi konvergen merupakan perubahan pada organ yang berbeda pada spesies-spesies yang memiliki hubungan kekerabatan jauh menuju kesamaan fungsi organ tersebut.


Tokoh-tokoh Evolusi

1. Plato (427 – 347 SM)
Plato Percaya pada dua dunia, yaitu dunia yang ideal dan abadi, serta dunia maya (khayal) yang tidak sempurna. Kedua dunia tersebut dapat dipahami dengan menggunakan alat indera manusia.

Plato (427 – 347 SM)
Plato (427 – 347 SM)

Plato Membayangkan pencipta yang menciptakan dunia dari kehancuran kemudian menciptakan para dewa yang akan membuat manusia berjenis kelamin laki-laki, Perempuan dan hewan muncul dari hasil reinkarnasi jiwa laki-laki, makin cacat jiwa tersebut, makin rendah reinkarnasinya. Evolusi menurutnya akan mengubah dunia yang organismenya sudah ideal dan teradaptasi sempurna dengan lingkungannya. 

2. Teori evolusi Aristoteles (384-322 SM)

Teori evolusi Aristoteles (384-322 SM)
Teori evolusi Aristoteles (384-322 SM)
Aristoteles adalah seorang filosof yang berasal dari Yunani, yang mencetuskan teori evolusi. Dia merupakan murid Plato yang menyusun seluruh organisme ke dalam suatu ”skala alami”. Skala tersebut meliputi tingkat sederhana hingga tingkat paling kompleksi. Skala alami membahas bahwa semua bentuk kehidupan disusun menurut suatu skala atau tangga yang kompleksitasnya meningkat kearah atas. Setiap bentuk kehidupan mempunyai suatu tangga dengan anak tangganya masing-masing yang berada pada tingkatan yang berbeda-beda. Pandangannya mengenai hidup ini berlaku selama 2000 tahun, spesies diyakini telah permanent, sempurna, dan tidak berkembang lagi. Aristoteles mengatakan bahwa evolusi yang terjadi berdasarkan metafisika alam, maksudnya metafisika alam dapat mengubah organisme dan habitatnya dari bentuk sederhana ke bentuk yang lebih kompleks.


3. Teori evolusi Anaximander (500 SM )

Teori evolusi Anaximander (500 SM )
Teori evolusi Anaximander (500 SM ) 
Anaximander juga merupakan seorang filosof yang berasal dari Yunani. Ia berpendapat bahwa manusia berawal dari makhluk akuatik mirip ikan dan mengalami proses evolusi.

 Ia dipandang sebagai pelopor dari ajaran desendensi (ajaran penurunan ) oleh karena ia mengajarkan bahwa kosmos mungkin terbentuk dari kekacauan ( chaos ), kehidupan muncul dari zat mati, dan makhluk tingkat tinggi muncul dari makhluk tingkat rendah. Akan tetapi teori ini tidak berpengaruh terhadap alam pemikiran para sarjana di zaman itu. Namun setelah beberapa teori evolusi berkembang dengan pesat, maka dalam tulisan-tulisan para ahli ini dapat ditemukan kembali petunjuk-petunjuk tentang adanya pandangan para ahli tentang evolusi.


4. Teori evolusi Empedoclas (495-435 SM)

Teori evolusi Empedoclas (495-435 SM)
Teori evolusi Empedoclas (495-435 SM)
Empedoclas adalah seorang filosof Yunani. Ia mengemukakan teori bahwa kehidupan berasal dari lumpur hitam yang mendapat sinar dari matahari dan berubah menjadi makhluk hidup. Evolusi terjadi dengan dimulainya makhluk hidup yang sederhana kemudian berkembang menjadi sempurna dan akhirnya menjadi beraneka ragam seperti sekarang ini.

5. Teori evolusi Erasmus Darwin (1731-1802)

Teori evolusi Erasmus Darwin (1731-1802)
Teori evolusi Erasmus Darwin (1731-1802)
Erasmus Darwin adalah kakek dari Charles Robert Darwin, seorang tokoh evolusi berkebangsaan Inggris. Teorinya adalah bahwa evolusi terjadi karena bagian fungsional terhadap stimulasi adalah diwariskan. Ia menyusun buku yang berjudul Zoonamia yang menentang teori evolusi dari Lamarck.

6. Teori evolusi Count de Buffon (1707-1788)

Teori evolusi Count de Buffon (1707-1788)
Teori evolusi Count de Buffon (1707-1788)
Buffon berpendapat bahwa variasi-variasi yang terjadi karena pengaruh alam sekitar diwariskan sehingga terjadi penimbunan variasi.

7. Teori evolusi Sir Charles Lyell (1797-1875)

Teori evolusi Sir Charles Lyell (1797-1875)
Teori evolusi Sir Charles Lyell (1797-1875)
Lyell adalah seorang ilmuwan yang berasal dari Skotlandia dengan bukunya yang terkenal berjudul Principles of Geology yang terbit pada tahun 1830. Lyell adalah salah satu ilmuan yang mampu membalikan gagasan tradisional tentang umur dan asal-usul bumi. Di dalam bukunya tersebut Lyell berpendapat bahwa permukaan bumi terbentuk melalui proses bertahap dalam jangka waktu yang lama. Lyell mengemukakan bahwa gunung dan lembah dan ciri-ciri fisik permukaan bumi tidak diciptakan seperti bentuknya sekarang atau tidak dibentuk oleh bencana yang berturut-berturut, tetapi terbentuk oleh berlanjutnya proses vulkanis, pergolakan, erosi, glasiasi dan sebagainya dalam jangka waktu yang sangat lama dan masih berlangsung sampai sekarang.

Bagi orang-orang geologi kata Uniformitarianisme sudah tidak asing lagi, merupakan satu hukum dasar dalam pengembangan ilmu geologi.  Uniformitarianisme adalah salah satu konsep pemersatu paling penting dalam Geosains. Ini konsep yang dikembangkan di akhir 1700-an, menunjukkan bahwa proses bencana tidak bertanggung jawab atas alam yang ada di permukaan bumi. Konsep tentang uniformitarianisme diasumsikan bahwa hukum alam yang sama dan proses yang beroperasi di alam sekarang, selalu dioperasikan di alam semesta di masa lalu. Hal ini sering diringkas sebagai "saat ini adalah kunci ke masa lalu,"  karena meyakini bahwa segala sesuatu terus terjadi karena terbentuknya dunia pada awalnya. 

Ide-ide di balik uniformitarianisme berasal dari karya ahli geologi Skotlandia James Hutton. Pada 1785, Hutton disampaikan pada pertemuan Royal Society Edinburgh bahwa bumi memiliki sejarah yang panjang dan bahwa sejarah ini dapat ditafsirkan dari segi proses saat diamati. Sebagai contoh, tanah terbentuk oleh pelapukan batuan dasar selama ribuan tahun. Dia juga menyarankan bahwa teori-teori supranatural tidak diperlukan untuk menjelaskan sejarah geologi Bumi. 

Teori uniformitarianisme juga penting dalam membentuk perkembangan ide-ide dalam disiplin lain. Karya Charles Darwin dan Alfred Wallace tentang asal-usul spesies bumi adalah lanjutan ide-ide dari uniformitarianisme ke dalam ilmu biologi. Teori evolusi didasarkan pada prinsip bahwa keragaman spesies yang terlihat di bumi dapat dijelaskan oleh modifikasi sifat genetik seragam selama jangka waktu yang lama.  

8. Teori evolusi Jean Baptise de Lamarck (1744 – 1829)

Teori evolusi Jean Baptise de Lamarck (1744 – 1829)
Teori evolusi Jean Baptise de Lamarck (1744 – 1829)
Jean Baptise de Lamarck seorang ahli biologi kebangsaan Perancis, yang membuat suatu teori mengenai makhluk hidup yang sederhana dan yang modern memiliki suatu asal-muasal. memiliki suatu gagasan tentang use and disuse dan menuliskannya dalam bukunya berjudul “Philoshopic”.

Dalam bukunya tersebut Lamarck mengatakan sebagai berikut :
Ø  Lingkungan mempunyai pengaruh pada ciri-ciri dan sifat-sifat yang diwariskan melalui proses adaptasi lingkungan.
Ø  Ciri dan sifat yang terbentuk akan diwariskan kepada keturunannya.
Ø  Organ yang sering digunakan akan berkembang dan tumbuh membesar, sedangkan organ yang tidak digunakan akan mengalami pemendekan atau penyusutan, bahkan akan menghilang. Contoh yang dapat digunakan oleh Lamarck adalah jerapah.
Pada awalnya jerapah memiliki leher pendek. Karena makanannya berupa daun-daun yang tinggi, maka jerapah berusaha untuk dapat menjangkaunya. Karena terbiasa dengan hal ini maka semakin lama, leher jerapah menjadi semakin panjang dan pada generasi berikutnya akan lebih panjang lagi.

Melihat adanya kecenderungan makhluk sederhana berubah menjadi makhluk yang lebih kompleks dengan prinsip adanya proses perubahan menuju kesempurnaan. Perubahan menjadi sempurna ini menurut Lamarck karena harus beradaptasi pada lingkungannya. Proses adaptasi ini dijelaskan Lamarck melalui dua hal. Pertama, adanya proses use (menggunakan) dan disuse (tidak menggunakan) dari bagian-bagian tubuh organisme, bergantung pada kebutuhannya.

Organ tubuh yang digunakan secara luas untuk menghadapi lingkungan akan berkembang lebih besar, sedangkan bagian tubuh yang kurang digunakan akan mengalami penyusutan. Kedua, Lamarck berkeyakinan adanya pewarisan sifat-sifat yang diperoleh. Keadaan otot bisep yang semakin besar akibat penggunaan terus-menerus akan diwariskan kepada keturunannya. Dengan kata lain, keturunan akan lahir dengan sifat otot bisep besar dengan sendirinya.

Demikian pula, leher panjang jerapah akan terwaris dengan sendirinya kepada keturunannya. Padahal perubahan organ tubuh tersebut hasil modifikasi, dan tidak ada bukti bahwa sifat-sifat yang diperoleh dapat diwariskan. 

Teori evolusi Lamarck

Suatu kehormatan bagi Lamarck, adanya pengakuan bahwa memang adaptasi terhadap lingkungan merupakan produk evolusi.
a.    Pada awalnya seluruh jerapah berleher pendek, sementara daun-daunan makanannya di pohon harus dijangkau karena letaknya yang tinggi.
b.    Karena sering menjangkau daun, leher jerapah semakin panjang sehingga jerapah generasi berikutnya semakin tinggi.
c.    Penyesuaian dan pewarisan hasil adaptasi ini berlanjut sehingga jerapah masa kini berleher panjang.

Teori Lamarck ditentang oleh Erasmus Darwin (kakek dari Charles Darwin) yang mengatakan bahwa populasi jerapah adalah heterogen, ada yang berleher pendek dan ada yang berleher panjang. Jerapah-jerapah tersebut berkompetisi untuk mendapatkan makanan. Dari persaingan tersebut jerapah berleher panjang akan menang dan akan tetap hidup, sifat ini akan diwariskan kepada keturunannya. Jerapah yang berleher pendek akan mati dan perlahan-lahan mengalami kepunahan.

Teori jerapah berleher panjang menurut Lamarck dan Erasmus Darwin.
Teori jerapah berleher panjang menurut Lamarck dan Erasmus Darwin.

9. August Weismann (1934 – 1914)
Weismann berpendapat bahwa sel-sel tubuh tidak dipengaruhi oleh lingkungan dalam penurunannya, melainkan berdasarkan pada prinsip genetika. Weismann melakukan percobaan untuk membuktikan teorinya tersebut. Perlakuan diberikan kepada dua tikus yang dipotong ekornya dan kemudian kedua tikus tersebut dikawinkan. Hasilnya adalah generasi keturunannya masih berekor panjang sampai generasi ke-21.

August Weismann (1934 – 1914)
August Weismann (1934 – 1914)

Dari percobaan yang dilakukan tersebut maka akhirnya Weismann menarik kesimpulan seperti berikut:
  1. Perubahan sel tubuh karena pengaruh lingkungan tidak diwariskan kepada generasi berikutnya.
  2. Evolusi merupakan masalah genetika, artinya evolusi adalah gejala seleksi alam terhadap faktor-faktor genetika.

Share on Facebook
Share on Twitter
Share on Google+
Tags :

Related : Teori-teori Evolusi Sebelum Carles Darwin

Comments
0 Comments

0 komentar:

Post a Comment

Loading...
Loading...