materi kuliah biologi, biologi kesehatan, biologi sel, karakteristik mahluk hidup, klasifikasi mahluk hidup, plantae, animalia dan kerugian dan keuntungan biologi bagi kehidupan

Saturday, 4 February 2017

Morfologi, Anatomi, Reproduksi, Klasifikasi dan Peranan Crustacea

Morfologi, Anatomi, Reproduksi, Klasifikasi dan Peranan Crustacea - Crustacea adalah suatu kelompok besar dari arthropoda, terdiri dari kurang lebih 52.000 spesies yang terdeskripsika, dan biasanya dianggap suatu subfilum. Kelompok ini mencakup hewan-hewan yang cukup dikenal seperti lobster, kepiting, udang dan lainnya. Mayoritas merupakan hewan air, baik air tawar maupun air laut, walaupun beberapa kelompok telah beradaptasi dengan darat contohnya kepiting darat.

Morfologi, Anatomi, Reproduksi, Klasifikasi dan Peranan Crustacea
Crustacea
Kebanyakan anggota dapat bergerak bebas, walaupun beberapa takson bersifat parasit dengan menumpang inangnya. Dari komunitas plankton, hewan-hewan kelas Crustaceamerupakan yang menonjol karena jumlahnya sangat banyak. Crustacea termasuk filum Arthropoda (hewan berkakai ruas). Pada makalah ini akan dibahas mengenai ciri umum crustacea, struktur tubuh anatomi dan fisiologi, peranan crustacea serta klasifikasinya.

Tubuh Crustacea terdiri atas dua bagian, yaitu kepala dada yang menyatu (sefalotoraks) dan perut atau badan belakang(abdomen).  Bagian sefalotoraksdilindungi oleh kulit keras yang disebut karapas dan 5 pasang kaki yang terdiri dari 1 pasang kaki capit (keliped) dan 4 pasang kaki jalan. Selain itu, di sefalotoraks juga terdapat sepasang antena, rahang atas, dan rahang bawah. Sementara pada bagianabdomen terdapat 5 pasang kaki renang dan di bagian ujungnya terdapat ekor.  Pada udang betina, kaki di bagian abdomen juga berfungsi untuk menyimpan telurnya.Sistem pencernaan Crustacea dimulai dari mulut, kerongkong, lambung, usus, dananus. Sisa metabolisme akan diekskresikan melalui sel api. Sistem saraf Crustaceadisebut sebagai sistem saraf tangga tali, dimana ganglion kepala (otak) terhubung dengan antena (indra peraba), mata (indra penglihatan), dan statosista (indra keseimbangan).  Hewan-hewan Crustacea bernapas dengan insang yang melekat pada anggota tubuhnya dan sistem peredaran darah yang dimilikinya adalah sistemperedaran darah terbuka. O2 masuk dari air ke pembuluh insang, sedangkan CO2berdifusi dengan arah berlawanan. O2 ini akan diedarkan ke seluruh tumbuh tanpa melalui pembuluh darah.Golongan hewan ini bersifat diesis (ada jantan dan betina) dan pembuahan berlangsung di dalam tubuh betina (fertilisasi internal). Untuk dapat menjadi dewasa, larva hewan akan mengalami pergantian kulit (ekdisis) berkali-kali.

A. Pengertian Crustacea
Setiap anggota Crustacea subphylum (Arthropoda phylum), kelompok hewan invertebrata yang terdiri dari beberapa spesies 45.000 didistribusikan di seluruh dunia, pada umumnya hidup di air (akuatik), ada yang hidup di laut, air tawar, dan di tempat yang lembab. Crustacea yang hidup di laut sebagian besar merupakan zooplankton. Ukuran tubuh bervariasi, ada yang kecil (plankton) sampai dengan ukuran yang besar, seperti kepiting dan udang.

Anggota Crustacea antara lain meliputi udang, teritip, dan lobster. Beberapa larva dari beberapa spesies anggota kelas ini tingga di dalam liang, sedangkan yang lain bersifat pelagic, bahkan ada yang menghuni laut dalam. Sebagian besar hidup bebas dan ada yang hidup dalam kelompok-kelompok besar.

B. Morfologi dan Anatomi Crustacea
Permukaan tubuh crustacea dilindungi kutikula yang tersusun dari zat kitin yang ditambah dengan garam-garam mineral dan bersifat sangat keras. Tubuhnya dibedakan menjadi cefalotorak dan abdomen yang terdiri dari segmen-segmen (kepala 5, torak 8, dan abdomen 6) masing-masing dengan satu pasang anggota tubuh yang terdiri atas ruas-ruas. Setiap segmen tubuh dibedakan atas tergum (bagian dorsal), sternum (bagian ventral), pleura (lateral tubuh) (Kastawi, 2009).  Cefalotorak terdiri atas 13 segmen yang terlindung oleh karapak. Ujung anterior karapak merupakan rostrum. Antena dan antenula merupakan struktur indera. Kaki jalan berfungsi untuk bergerak, memegang makanan, dan membersihkan tubuhnya. Kaki renang sebagai alat renang, respirasi, dan pembawa telur pada hewan betina (Kastawi, 2009).


Morfologi dan Anatomi Crustacea
Morfologi dan Anatomi Crustacea


1. Sistem Pencernaan Crustacea
Sistem pencernaan terdiri atas mulut, esophagus, lambung, usus, dan anus. Lambung dibedakan atas dua bagian yaitu bagian yang besar (anterior) disebut kamar kardiaka dan yang kecil adalah pylorus. Usus merupakan tabung kecil yang mengarah ke arah posterior tubuh dan bermuara pada anus yang terletak pada permukaan ventral telson. Di dalam usus terjadi penyerapan zat-zat makanan oleh dinding usus (Kastawi, 2009).  Makanan udang pada prinsipnya adalah hewan-hewan yang masih hidup antara lain, siput, berudu, larva insekta, dan ikan-ikan kecil. Namun udang juga memakan material organik yang membusuk.

2. Sistem Sirkulasi Crustacea
Alat peredaran terdiri atas darah dan pembuluh darah. Darah terdiri atas cairan darah yang hampir tidak berwarna dan corpuscula darah atau amoebocyt yang berupa sel-sel ameboid. Fungsi darah yaitu mengangkut material makanan dari satu bagian tubuh ke bagian yang lain, mengangkut oksigen dari insang menuju jaringan-jaringan tubuh, mengangkut CO2 menuju ke insangdan mengangkut urea menuju alat ekskresi (Kastawi, 2009).

3. Sistem Respirasi Crustacea
            Diantara bagian lateral karapak dan dinding badan terdapat rongga-rongga  atau kamar-kamar yang berisi insang dan bagian ventral kamar tersebut terbuka. Insang merupakan penjuluran dinding badan yang berbentuk bulu dan mengandung pembuluh darah. Skafognatit (bagian berbentuk sadel)  dari maxilla II bergerak ke depan dan ke belakang menarik air yang kaya oksigen menuju ke filamen insang (Kastawi, 2009).

4. Sistem Ekskresi Crustacea
            Alat ekskresi berupa sepasang bangunan yang lebar, disebut “kelenjar hijau” terletak di bagian bawah kepala, anterior esophagus. Setiap kelenjar terdiri atas bagian glanduler berwarna hijau, vesica urinaria, terbentuk dari dilatasi dinding yang tipis dan saluran yang bermuara keluar melalui suatu pori terletak di bagian ventral pada segmen basal antena. Fungsi kelenjar hijau adalah membuang sisa metabolisme tubuh (Kastawi, 2009).

5. Sistem Saraf Crustacea
            Sistem saraf udang mirip cacing tanah, tetapi relative lebih besar. Sistem saraf terdiri atas ganglion supraesofageal (otak) yang bercabang ke saraf-saraf mata, antenula, dan antenna. Sepasang saraf penghubung yang berhubungan dengan ganglion subesophageal yang terletak di belakang mulut bagian ventral (Kastawi, 2009).

6. Sistem Reproduksi Crustacea
            Udang bersifat diesius, yang betina memiliki abdomen yang lebih besar di bandingkan yang jantan. Alat reproduksi udang  jantan terdiri atas sepasang testis, sepasang vas deferens, dan sepasang vesikula seminalis. Alat reproduksi udang betina terdiri atas sepasang ovari dan sepasang oviduk (Kastawi, 2009).

Pembuahan terjadi di luar tubuh. Ketika musim reproduksi udang jantan dan udang betina mengadakan kopulasi. Pada saat kopulasi spermatozoa akan di tampung dalam penampung sperma, kemudian kedua hewan berpisah. Beberapa hari kemudian, udang betina membersihkan daerah abdomennya dengan menggunakan kaki renagnya. Kemudian udang betina membalikkan tubuhnya, melipat tubuh dan keluarlah sekresi berupa lendir yang menyelaputi kaki renang. Ovum akan keluar dari oviduk sekitar 200-400 buah dan akan dibuahi oleh spermatozoa yang keluar dari kantong penampung spermatozoa. Telur tetap melekat pada kaki renang sampai menetas (Kastawi, 2009).

7. Sistem Endokrin Crustacea
            Hormon berperan utama dalam mengkoordinasikan fisiologi crustacea. Organ endokrin yang terpenting adalah kompleks X organ sinus gland (XOSG) complex yang terletak dekat saraf optic. Organ endokrin yang terpenting lainnya adalah Y organ, terletak pada bagian dasar setiap maksila. Hormon-hormon yang dihasilkan oleh sistem XOSG adalah molt-inhibiting hormone (MIH). MIH tersebut akan merintangi terjadinya molting dengan menghambat sekresi ekdison dari organ Y (Kastawi, 2009).

Ketika terjadi perubahan lingkungan sekitarnya seperti perubahan suhu atau panjang hari, maka sekresi organ X terhambat dan organ Y terstimulus untuk mensekresikan ekdison. Oleh karena itu, terjadinya molting hanya ketika adanya perubahan lingkungan yang akan memicu kerja organ Y. Kompleks XOSG juga mensekresikan hormone yang berfungsi mengontrol kromatofor, sehingga memungkinkan hewan mengubah warna kulitnya (Kastawi, 2009).

Salah satu hormone yang menyebabkan pigmen menjadi lebih terkonsentrasi di sebelah dalam kromatofor merah, akibatnya warna kulit hewan menjadi kurang merah. Hasil sekresi lain adalah crustacean hyperglycemic hormone yang analog dengan adrenalin glucagon di dalam vertebrata. Hormone ini membantu meningkatkan glikogen yang disimpan menjadi glukosa. Sistem XOSG juga mensekresi distal retinal-pigment hormone yang berperan membantu proses adaptasi mata majemuk dalam cahaya redup. Udang karang dan crustacea lain memiliki androgenic glands yang menyebabkan sifat maskulin (Kastawi, 2009).

C. Regenerasi dan Autotomi Crustacea
            Udang memiliki daya regenerasi pada bagian-bagian tubuh yang rusak atau hilang. Struktur baru tidak selalu sama dengan yang digantikan. Contohnya pada Orconectes pellucidus testii memiliki mata yang tidak berfungsi. Namun setelah terjadi regenerasi terbentuk bangunan seperti antena yang berfungsi sebagai alat peraba. Regenerasi semacam ini disebut heteromorfis karena struktur baru tidak serupa dengan struktur yang digantikan.  Udang juga memiliki kemampuan autotomi yaitu pemutusan kaki pada titik tertentu (Kastawi, 2009).

D. Klasifikasi Crustacea
Berdasarkan ukuran tubuhnya Crustacea dikelompokkan sebagai berikut:
1.    Entomostraca (udang tingkat rendah)
Kelompok Entomostraca umumnya merupakan penyusun zooplankton, adalah melayang-layang di dalam air dan merupakan makanan ikan. Adapun pembagian ordo yang termasuk Entomostraca antara lain:

a. Branchiopoda
                 Contoh: Daphnia pulex dan Asellus aquaticus Hewan ini sering disebut kutu air dan merupakan salah satu penyusun zooplankton. Pembiakan berlangsung secara parthenogenesis.

Branchiopoda
Branchiopoda

b.  Ostracoda
Contoh: Cypris candidaCodona suburdana. Hidup di air tawar dan laut sebagai plankton, tubuh kecil dan dapat bergerak dengan antena.

Ostracoda
Ostracoda


c. Copepoda
Contoh: Argulus indicus, Cyclops. Hidup di air laut dan air tawar, dan merupakan plankton dan parasit, segmentasi tubuhnya jelas. 

Contoh Copecoda
Contoh Copecoda

d.  Cirripedia
Contoh: Lepas atau Bernakel, Sacculina. Tubuh dengan kepala dan dada ditutupi karapaks berbentuk cakram dan hidup di laut melekat pada batu atau benda lain. Cirripedia ada yang bersifat parasit. Cara hidup Cirripedia beraneka ragam. Salah satu diantaranya adalah Bernakel yang terdapat pada dasar kapal, perahu dan tiang-tiang yang terpancang di laut atau mengapung di laut.

Cirripedia
Cirripedia


2. Malakostraca (udang tingkat tinggi)
Hewan ini kebanyakan hidup di laut, adapula yang hidup di air tawar. Tubuhnya terdiri atas sefalotoraks yaitu kepala dan dada yang bersatu serta perut (abdomen). Malakostraca dibagi menjadi 3 ordo, yaitu Isopoda, Stomatopoda dan Decapoda.

a. Isopoda
Tubuh pipih, dorsiventral, berkaki sama.
Contoh: Onicus asellus (kutu perahu) dan Limnoria lignorum. Keduanya adalah pengerek kayu.

Isopoda
Isopoda

b.  Stomatopoda
Contoh: Squilla empusa (udang belalang). Hidup di laut, bentuk tubuh mirip belalang sembah dan mempunyai warna yang mencolok. Belakang kepala mempunyai karapaks. Kepala dilengkapi dengan dua segmen anterior yang dapat bergerak, mata dan antena.

Stomatopoda
Stomatopoda

c.  Decapoda (si kaki sepuluh)
Yang termasuk ordo ini adalah udang dan ketam. Hewan ini mempunyai sepuluh kaki dan merupakan kelompok udang yang sangat penting peranannya bagi kehidupan manusia. Decapoda banyak digunakan sebagai sumber makanan yang kaya dengan protein. Contohnya adalah udang, kepiting, ketam dan rajungan. Kepala – dada menjadi satu (cephalothorax) yang ditutupi oleh karapaks. Tubuh mempunyai 5 pasang kaki atau sepuluh kaki sehingga disebut juga hewan si kaki sepuluh. Hidup di air tawar, dan beberapa yang hidup di laut. 

 Decapoda (si kaki sepuluh)
 Decapoda (si kaki sepuluh)

Beberapa contoh Decapoda berikut uraiannya, yaitu:
a)      Udang
1.      Penacus setiferus (udang windu), hidup di air payau, enak dimakan dan banyak dibudidayakan.
2.      Macrobrachium rasenbengi (udang galah), enak dimakan, hidup di air tawar dan payau.
3.      Cambarus virilis (udang air tawar)
4.      Panulirus versicolor (udang karang), hidup di air laut dan tidak memiliki kaki catut.
5.      Palaemon carcinus (udang sotong)
b)      Ketam:
1.      Portunus sexdentatus (kepiting)
2.      Neptunus peligicus (rajungan) / Pagurus sp.
3.      Parathelpusa maculata (yuyu)
4.      Scylla serrata (kepiting)
5.      Birgus latro (ketam kenari)
Perhatikan gambar berikut ini!

   D.    Peranan Crustacea
    a.      Keuntungan crustacea
Jenis Crustacea yang menguntungkan manusia dalam beberapa hal, antara lain:
1.      Sebagai bahan makanan yang berprotein tinggi, misalnya udang, lobster dan kepiting.
2.      Dalam bidang ekologi, hewan yang tergolong zooplankton menjadi sumber makanan ikan, misal anggota Branchiopoda, Ostracoda dan Copepoda.
3.      Udang rebon merupakan bahan baku pembuatan terasi.
4.      Telur artemia banyak diperdagangkan karena naupliusnya merupakan makanan awal bagi anak ikan atau Udang.

b. Kerugian crustacean
Sedangkan beberapa Crustacea yang merugikan antara lain:
1.         Merusak galangan kapal (perahu) oleh anggota Isopoda.
2.       Parasit pada ikan, kura-kura, misal oleh anggota Cirripedia dan Copepoda.
3.         Merusak pematang sawah atau saluran irigasi misalnya ketam.
4.         Copepoda merupakan inang perantara penyakit cacing pita ikan Dibotrio Cephalus Latus
5.         Tritip, yang merupakan pengganggu bagi manusia karena mengotori lunas kapal, pelampung dan tiang tiang dilaut populasi tritip yang padat dapat mengurangi kecepatan kapal

Share on Facebook
Share on Twitter
Share on Google+
Tags :

Related : Morfologi, Anatomi, Reproduksi, Klasifikasi dan Peranan Crustacea

Comments
0 Comments

0 komentar:

Post a Comment

Loading...
Loading...