Sistem dan Alat Reproduksi pada Pria, Pengetahuan tentang
Anatomi dan Fisiologi sistem reproduksi pada manusia merupakan ilmu yang paling
dasar/basic bagi setiap pelaku kesehatan reproduksi khususnya para wanita.
Dalam makalah ini akan dibahas tentang Anatomi Sistem Reproduksi yang menerangkan
tentang Anatomi Saluran Reproduksi Laki-laki
![]() |
Sistem dan Alat Reproduksi pada Pria |
Sistem reproduksi pada manusia akan mulai
berfungsi ketika seseorang mencapai kedewasaan (pubertas) atau masa akil
baligh. Pada seorang pria testisnya telah mampu menghasilkan sel kelamin jantan
(sperma) dan hormon testosteron. Hormon testosteron berfungsi mempengaruhi
timbulnya tanda-tanda kelamin sekunder pada pria, di antaranya suara berubah
menjadi lebih besar, tumbuhnya rambut di tempat tertentu misalnya jambang,
kumis, jenggot, dan dada tumbuh menjadi bidang, jakun membesar.
Sedangkan
seorang wanita ovariumnya telah mampu menghasilkan sel telur (ovum) dan hormon
wanita yaitu estrogen. Hormon estrogen berfungsi mempengaruhi timbulnya
tanda-tanda kelamin sekunder pada wanita, yaitu kulit menjadi semakin halus,
suara menjadi lebih tinggi, tumbuhnya payudara dan pinggul membesar.
A. Pengertian
Reproduksi
Reproduksi
adalah kemampuan makhluk hidup untuk menghasilkan keturunan yang baru.
Tujuannya adalah untuk mempertahankan jenisnya dan melestarikan jenis agar
tidak punah. Pada manusia untuk menghasilkan keturunan
yang baru diawali dengan
peristiwa fertilisasi. Sehingga dengan demikian reproduksi pada
manusia dilakukan dengan cara generatif atau seksual.
B. Alat Reproduksi Pria
Kelamin
atau alat reproduksi pada pria memiliki dua fungsi yaitu untuk menghasilkan sel-sel kelamin dan menyalurkan sel-sel kelamin tersebut
ke saluran kelamin wanita. Alat reproduksi pria dibagi menjadi dua bagian
utama, yaitu alat kelamin bagian dalam dan alat kelamin bagian luar.
Alat
kelamin bagian dalam terdiri atas testis, saluran reproduksi, dan
kelenjar-kelenjar kelamin, sedangkan alat kelamin bagian luar hanya terdiri
dari satu bagian, yaitu penis. Berikut ini akan diuraikan
masing-masing bagian Struktur
alat reproduksi pria.
Untuk dapat mengetahui reproduksi pada
manusia, kita harus mengetahui terlebih dahulu organ-organ kelamin yang terlibat serta proses yang
berlangsung di dalamnya.
C. Organ Reproduksi Pada
Pria
Dibedakan menjadi organ kelamin luar dan organ
kelamin dalam.
1. Organ Reproduksi
Luar
Alat
kelamin luar hanya terdiri dari, yaitu dikenal dengan nama penis dan Scrotum.
Penis ini berfungsi sebagai alat kopulasi atau organ persetubuhan, yaitu organ atau
alat untuk memasukkan cairan semen ke dalam alat kelamin wanita.
a. Penis merupakan organ kopulasi yaitu hubungan
antara alat kelamin jantan dan betina
untuk memindahkan semen ke dalam organ reproduksi betina. Penis
diselimuti oleh selaput tipis yang nantinya akan dioperasi pada saat
dikhitan/sunat.
Di dalam penis terdapat uretra yang
merupakan muara bagi saluran kencing dan saluran kelamin. Di samping itu, di
dalam penis juga
terdapat korpus kavernosum atau badan rongga, yaitu dua korpus kavernosum penis
di sisi uretra dan satu korpus kavernosum penis di bawah uretra. Apabila terjadi
rangsangan rongga ini akan terisi darah, sehingga dapat menyebabkan penis
membesar dan memanjang serta menegang yang dikenal sebagai proses ereksi.
Selain itu, pada penis terdapat bagian
yang disebut kepala penis (glans penis). Bagian ini merupakan ujung
penis tempat terdapatnya lubang uretra (urifisium uretra) dan ujung-ujung saraf
perasa. Pada kepala penis terdapat kulit penutup yang dapat melipat disebut kulup (preputium).
1. Scrotum merupakan selaput
pembungkus testis yang merupakan pelindung testis serta mengatur suhu yang
sesuai bagi spermatozoa
Skrotum disusun oleh otot-otot
berikut.
a.
Otot dartos
Otot dartos merupakan
otot yang membatasi antara skrotum kanan dan kiri. Otot dartos berfungsi untuk
menggerakkah skrotum untuk mengerut dan mengendur. Skrotum memiliki adaptasi
terhadap udara yang panas maupun dingin. Pada saat udara panas maka tali yang
mengikat skrotum akan mengendur untuk membiarkannya turun lebih jauh dari
tubuh. Sebaliknya apabila udara dingin maka tali tersebut akan menarik skrotum mendekati
tubuh sehingga akan tetap hangat. Hal ini dilakukan untuk menunjang fungsi dari
testis.
b.
Otot kremaster
Otot kremaster
merupakan penerusan otot lurik dinding perut. Otot ini berfungsi untuk mengatur
suhu lingkungan testis agar stabil, karena proses spermatogenesis dapat
berjalan dengan baik pada suhu stabil, yaitu 3 oC lebih rendah dari suhu di dalam tubuh.
Suhu yang tidak sesuai akan menghambat produksi spermatozoa.
Gangguan demam dapat
mengakibatkan penurunan produksi spermatozoa. Pada pria dianjurkan memakai
pakaian yang longgar untuk menunjang kesuburan laki-laki. Struktur dari kantong
skrotum yaitu banyak lipatan kulit yang berfungsi untuk memperluas permukaan
penguapan. Kulit kantong skrotum memiliki banyak kelenjar keringat,m untuk
mendinginkannya dilakukan melalui proses penguapan air keringat.
Hormon testosteron ini
juga akan menentukan sikap mental seorang laki-laki, serta penampilan
kejantanan tubuhnya. Tanpa hormon ini seorang laki-laki akan berkulit lembut,
lemah gemulai, seperti ciri-ciri seorang wanita.
Pada seorang laki-laki
testis dapat mengalami gangguan, antara lain tumor, yaitu pembengkakan yang
terjadi pada testis. Pembengkakan dapat juga diakibatkan pengumpulan cairan
antara lapisan-lapisan pembungkus atau pembesaran pembuluh darah balik.
Gondongan pada orang dewasa dapat pula menyebabkan pembengkakan dan peradangan
testis sehingga menimbulkan kemandulan.
2. Organ Reproduksi Dalam
Alat
kelamin bagian dalam terdiri atas sepasang testis, saluran reproduksi, dan
beberapa kelenjar kelamin.
a. Testis
Testis atau yang lazim dikenal dengan
sebutan buah zakar merupakan suatu alat dengan fungsi ganda, selain sebagai
penghasil sel kelamin jantan (spermatozoa) juga
merupakan organ hormon endokrin. Hormon yang dihasilkan testis adalah hormon testosteron, yaitu hormon kelamin jantan yang
utama. Disebut demikian, karena hormon inilah yang suatu saat bertanggung jawab
memperlihatkan ciri-ciri kelamin sekunder pada pria. Ciri-ciri kelamin
sekunder, tersebut antara lain adanya janggut, suara membesar, dan bentuk badan
yang akan tampak pada saat seorang pria yang mencapai masa pubertas (masa
kematangan seksual).
Testis berbentuk bulat telur yang
jumlahnya sepasang dan terdapat pada suatu kantong pelindung disebutskortum. Setiap testis dilengkapi dengan
saluran-saluran halus yang disebut tubulus
seminiferus. Tubulus
seminiferus ini apabila direntangkan dari ujung yang satu ke ujung yang lain
berukuran lebih dari 200 m. Pada dinding-dinding tubulus seminiferus terdapat
bakal sperma yang disebut spermatogonia dengan jumlah kromosom diploid.
Spermatogonia ini suatu saat akan
berubah menjadi spermatozoa. Proses perubahan spermatogonium menjadi sperma
(spermatozoa) terjadi melalui dua proses pembelahan sel yang berlangsung secara
meosis. Dengan demikian, setiap spermatogonium suatu saat akan menghasilkan
empat sel sperma. Di samping spermatogonia, pada tubulus seminiferus terdapat
pula sel-sel berukuran besar yang disebut sel
sertoli. Sel
sertoli inilah yang berperan sebagai penyedia makanan bagi
spermatozoa-spermatozoa tersebut.
b. Saluran reproduksi
Saluran reproduksi pada pria terdiri
atas duktus epididimis, duktus deferens (saluran sperma), vesikula seminalis
(kantung sperma), dan duktus ejakulatorius (saluran pemancaran).
Saluran-saluran tersebut saling berhubungan satu sama lain membentuk satu kesatuan
saluran reproduksi. Duktus epididimis berjumlah sepasang terdapat bersama-sama
testis di dalam skrotum yang merupakan tempat terjadinya proses pematangan sperma.
Saluran ini terletak di sebelah
belakang atas dari testis dan tampak berkelok-kelok. Saluran lanjutan dari
epididimis, dikenal sebagai vas deferens, jumlahnya sepasang, berupa saluran
lurus untuk mengangkut spermatozoa dari duktus epididimis ke kantong sperma
yang dikenal sebagai vesika seminalis. Vesika seminalis ini berupa sepasang
kantong yang dinding-dindingnya menghasilkan suatu cairan untuk makanan bagi
spermatozoa. Letak vesika seminalis, yaitu di belakang vesika urinaria (kantong
kemih).
Vas deferens yang arahnya ke atas,
kemudian melingkar dan salah satu ujungnya berakhir di kelenjar prostat. Di
belakang kandung kemih vas deferens ini bersatu membentuk suatu saluran yang
dikenal sebagai duktus
ejakulatorius.
Duktus ejakulatorius ini berjumlah sepasang yang fungsinya untuk memancarkan
semen (mani) dan vesika seminalis. Uretra dan duktus ejakulatorius bersama-sama
berakhir di ujung penis.
c. Kelenjar kelamin
Saluran-saluran
kelamin dilengkapi oleh tiga macam kelenjar kelamin yang fungsinya menghasilkan
sekret. Kelenjar-kelenjar yang melengkapi saluran kelamin itu terdiri atas
vesikula seminalis, kelenjar prostat, dan kelenjar boulbouretral yang lebih
dikenal sebagai kelenjar cowper. Ketiga kelenjar tersebut memiliki peranan yang
berbeda-beda.
Vesikula
seminalis merupakan kelenjar yang jumlahnya sepasang terletak di bagian atas
dan bawah kandung kemih. Kelenjar ini sebagai penghasil semen yang
terbesar, yaitu sekitar 60% dari volume total semen. Cairan yang dihasilkan
kelenjar ini berwarna jernih, kental karena mengandung lendir, asam amino, dan
fruktosa. Cairan ini berperan sebagai makanan bagi sperma. Selain cairan
tersebut, kelenjar ini mengekskresikan prostaglandin yang berguna untuk
merangsang otot uterin berkontraksi sehingga semen dapat terdorong mencapai
uterus.
Kelenjar
boulbouretral yang disebut juga sebagai kelenjar cowper, merupakan kelenjar
yang menghasilkan lendir pelindung pada saat ejakulasi terjadi. Kelenjar ini
bermuara di pangkal uretra dan jumlahnya sepasang. Kelenjar prostat memiliki
ukuran yang lebih besar jika dibandingkan dengan ukuran kedua kelenjar kelamin
lainnya.
Sekret
yang dihasilkan oleh kelenjar prostat ini berupa cairan encer yang menyerupai
susu dan bersifat alkalis, sehingga dapat berperan sebagai penyeimbang (buffer)
bagi keasaman residu urin di uretra dan derajat keasaman vagina. Cairan ini
suatu saat akan berkumpul di uretra melalui saluran-saluran kecil.