materi kuliah biologi, biologi kesehatan, biologi sel, karakteristik mahluk hidup, klasifikasi mahluk hidup, plantae, animalia dan kerugian dan keuntungan biologi bagi kehidupan

Tuesday, 17 January 2017

Interaksi Mahluk Hidup ( Simbiosis )

Ekosistem berisi berbagai macam komponen, baik biotik maupun abiotik. Setiap komponen tersebut terkait satu sama lainnya, masing- masing komponen tidak dapat berdiri sendiri sehingga pada akhirnya terbentuklah suatu interaksi. Interaksi pada ekosistem dapat terjadi antara komponen biotik dengan komponen biotik dan juga antara komponen biotik dan komponen abiotik. Interaksi antar komponen biotik melibatkan berbagai macam organisme dan juga memberikan pengaruh tertentu. Interaksi tersebut dilakukan sebagai usaha suatu organisme untuk memenuhi kebutuhan akan makanan dan untuk mempertahankan hidup.
Bentuk interaksi antar komponen biotik ini bermacam-macam, dapat berupa persaingan (kompetisi), pemangsaan (predasi), dan kerjasama (simbiosis). Persaingan (kompetisi) terjadi diantara beberapa organisme yang membutuhkan bahan makanan yang sama. Selain melakukan persaingan, beberapa organisme mendapatkan makanan dengan memangsa organisme lain. Pola interaksi semacam ini disebut pemangsaan (predasi). Organisme yang memakan organisme lain disebut predator atau pemangsa, sedangkan organisme yang dimakan disebut mangsa.

Namun ketika dua spesies hidup sangat dekat dalam suatu lingkungan, berinteraksi tanpa melakukan kompetisi atau predasi maka akan  terbentuk interaksi baru. Bentuk interaksi tersebut dapat saling menguntungkan, satu diuntungkan sementara yang lain dirugikan ataupun satu diuntungkan dan yang lain tidak diuntungkan atau dirugikan. Interaksi semacam itulah yang dinamakan simbiosis dan organisme yang melakukannya disebut simbion.

A.     Pengertian Simbiosis
The word symbiosis literally means "together life". It refers to organisms that  live in close approximation; often one cannot live without the other. In extreme cases, one organism actually lives inside the other organism (Marietta College,  2008). Istilah symbiosis berarti ‘hidup bersama’, istilah ini mengacu pada organisme yang hidup sangat dekat, bahkan kadang suatu individu tidak dapat hidup tanpa individu yang lain. Bahkan pada beberapa kasus, satu organisme hidup di dalam organisme lainnya. Simbiosis sendiri berasal dari bahasa Yunani, terdiri dari dua kata sym yang berarti dengan, dan biosis yang berarti kehidupan, sehingga dari kata tersebut simbiosis dapat diartikan sebagai interaksi yang kuat antara makhluk hidup yang berbeda jenis yang hidup berdampingan dalam waktu tertentu.

Simbiosis merupakan suatu pola hubungan antara dua makhluk hidup yang berbeda jenis. When individuals oftwo or more species live in direct and in·timate contact with one another, their relationship is called symbiosis (Campbell and Reece, 2007: 1202). Ketika individu dari dua atau lebih spesies hidup secara langsung dan berhubungan dengan satu dan lainnya, maka hubungan ini disebut sebagai simbiosis.


Simbiosis di Alam
Simbiosis di Alam




Dengan demikian dapat dikatakan bahwa simbiosis merupakan bentuk hubungan interaksi antara dua organisme dari dua spesies yang berbeda yang mana interaksi tersbut dapat saling menguntungkan, menguntungkan yang satu dan merugikan yang lain, atau dapat juga menguntungkan organisme satu dan tidak memberikan pengaruh apapun terhadap organisme yang lain.

B.      Terbentuknya Simbiosis
Simbiosis terjadi karena suatu organisme tidak dapat hidup sendiri, saling membutuhkan satu sama lain, sehingga kemudian mereka saling berinteraksi, walaupun interaksi tersebut dapat merugikan salah satu organisme. Beberapa bentuk simbiosis sangat rumit sehingga sangat sulit untuk menjelaskan mana organisme yang memulai atau yang mengakhirinya. Kebanyakan organisme yang terlibat dalam interaksi simbiosis hanya mengerti bahwa interaksi yang terjadi diantara mereka merupakan mekanisme bertahan hidup, cara organisme tersebut untuk mempertahankan kelangsungan hidup mereka, perilaku yang merupakan insting  dalam menghadapi seleksi alam.

Bentuk hubungan interaksi ini dapat berupa cara suatu organisme untuk bertahan sehingga menyebabkan satu organisme yang tidak dapat hidup tanpa organisme lain (obligate) atau berupa hubungan dimana keberadaan suatu organisme tidak begitu penting bagi organisme lain (facultative). Simbiosis sangatlah luas dan penting dalam kehidupan bagi banyak organisme dan memiliki peran ekologis yang penting dalam ekosistem alam.

C.     Jenis simbiosis

Segala interaksi baik yang merugikan, menguntungkan dengan yang lain tidak berpengaruh apapun, ataupun salah satu untung dan lainnya rugi, merupakan simbiosis. Berdasarkan kualitas hubungan tersebut, simbiosis dibedakan menjadi tiga jenis, yaitu simbiosis mutualisme, simbiosis parasitisme, dan simbiosis  komensalisme.

 

1. Parasitisme

a) Karakteristik parasitisme
Parasitisme adalah bentuk interaksi simbiosis yang mana satu organisme diuntungkan dan organisme lain dirugikan, parasit, organisme yang diuntungkan mengambil nutrisi dari organisme lain, sedangkan inang, merupakan organisme yang dirugikan. Arbi dan Vimono (2010: 228) mengungkapkan bahwa di dalam hubungan parasitisme, organisme parasit memanfaatkan organisme lainnya (inang) sebagai tempat hidup untuk melangsungkan sebagian besar siklus hidupnya. Inang seringkali merupakan tempat tinggal sekaligus  sebagai sumber makanan bagi parasit. Dengan    kata lain, parasit memiliki ketergantungan yang sangat tinggi terhadap kondisi organisme lain yang dijadikan sebagai inangnya.

Pada dasarnya organisme parasit tidak membunuh inang pada saat parasit tersebut mengambil keuntungan dari inangnya, bahkan walaupun parasit tersebut memiliki sifat pathogen (menyebabkan penyakit). Namun pada beberapa kasus tertentu terdapat organisme parasit yang dapat membunuh inangnya.

Parasit yang tinggal di dalam tubuh inangnya disebut endoparasite, sedangkan parasit yang hidup di luar tubuh inang disebut ektoparasit. Selain  itu terdapat juga istilah definitve host, yaitu organisme yang yang menjadi inang bagi parasit dewasa, sedangkan intermedieate host merupakan organisme yang menjadi inang bagi juvenile parasit. Definitve host biasanya merupakan predator dari intermedieate host dan siklus kehidupannya akan lengkap ketika definitve host memakan intermedieate host, melepaskan bentuk larva untuk menempati ‘tempat tinggal’ baru. Hal tersebut nampak pada siklus hidup cacing pita pada gambar berikut.






Siklus Hidup Cacing Pita
Siklus Hidup Cacing Pita
Berdasarkan ukuran dan proses memperbanyak diri, parasit juga dapat diklasifikasikan menjadi dua, yaitu mikroparasit dan makroparasit. Mikroparasit tidak dapat dilihat langsung, mereka memperbanyak diri langsung dengan inang yang ‘ditempatinya’ (biasanya sebanding dengan perkembangan sel dari inang), sedangkat makroparasit dapat terlihat, dapat tumbuh di dalam inang, namun kemudian mereka dapat memperbanyak diri setelah keluar dari inang sebelumnya untuk kemudian menginfeksi inang yang baru. Baik mikroparasit ataupun makroparasit dapat menyebar dari inang satu ke inang yang baru secara langsung ataupun melewati perantara. Kebanyakan mikroparasit merupakan protozoa, bakteri, jamur ataupun virus yang dapat menginfeksi hewan ataupun tumbuhan.

Contoh mikroparasit : protoza Trypanosoma brucei yang menyebabkan penyakit tidur (sleeping sickness) pada mamalia seperti baboon, monyet, bahkan manusia disebarkan oleh lalat tse-tse. Lalat tersebut menginjeksi parasit ke dalam darah mamalia ketika mereka menghisap darah mamalia tersebut.

b) Contoh simbiosis parasitisme

Beberapa contoh simbiosis parasitisme:

1. Cacing pita-Manusia
Cacing pita sebagai parasit dan manusia sebagai inang. Cacing pita dewasa hidup dalam usus manusia kemudian hidup dengan mengambil nutrisi dari manusia. Seperti siklus hidup cacing pita yang digambarkan pada gambar di atas, cacing pita dapat masuk ke dalam tubuh manusia apabila manusia memakan daging sapi atau babi yang mengandung larva cacing pita di dalamnya. Ketika sudah masuk ke dalam tubuh inang cacing pita akan mendapatkan makanan dari makanan yang dikonsumsi manusia, manusia akan dirugikan dengan kesehatannya yang terganggu.


Cacing Pita dan Siklus Hidupnya
Cacing Pita dan Siklus Hidupnya

2. Kutu-Manusia-Mamalia







Kutu biasa tinggal di rambut manusia atau di bulu mamalia kemudian menjadi parasit dengan menghisap darah dari inang. Sebenarnya kutu tidak begitu berbahaya, yang menjadi berbahaya adalah ketika kutu yang tinggal di inang yang memiliki penyakit tertentu kemudian berpindah ke inang yang lain, sehingga kutu dapat menjadi penyebar penyakit yang berbahaya bahkan mematikan.

3. Benalu tanaman induk
Benalu (Loranthus sp.) dengan tanaman induk yang berasal dari berbagai tanaman. Benalu tidak bisa menyerap air dan unsur hara dengan baik karena tidak memiliki akar yang kuat dan sempurna. Oleh karena itu, benalu hidup menempel pada tanamanan lain dan akarnya masuk ke pembuluh angkut untuk menyerap air dan unsur hara dari tanaman inang tersebut sehingga merugikan tanaman inangnya.


Benalu dan Tanaman Inang
Benalu dan Tanaman Inang

4. Larva tawon dan Ulat Catalpa






































































































































 
Tawon (kiri) dan Larva Ulat  (kanan) dan Larva Dewasa (Bawah)
Tawon (kiri) dan Larva Ulat  (kanan) dan Larva Dewasa (Bawah)
Gambar di atas menunjukkan ulat catalpa yang menjadi inang bagi  larva tawon. Tawon dewasa menyengat ulat, menginjeksikan telur mereka. Telur tersebut kemudian menetas dan memakan ulat dari dalam tubuh, begitu berhati-hati sehingga tidak mengganggu bagian vital dari sang ulat. Hingga pada akhirnya mereka muncul dan membuat kepompong dimana larva tersebut akan menjadi dewasa. Secara teknik tawon merupakan parasitoid, karena tidak seperti parasit lainnya, serangga ini membunuh inangnya.

5. Squawroot dan pohon Ek

Tanaman di atas terlihat seperti jamur, namun sebenarnya tanaman di atas merupakan tanaman berbunga, squawroot, yang menjadi parasit pada pohon, biasanya pada pohon ek. Squawroot mendapatkan enegi dengan ‘menyadap’ nutrisi dari pohon ek.

6. Siput Thyca crystallina dan Bintang Laut Biru
Siput parasit Thyca crystallina dapat dengan mudah ditemukan di alam, yaitu menempel pada bintang laut biru Linckia laevigata. Hampir pada seluruh bintang laut biru dapat ditemukan gastropoda parasit ini, bahkan pada satu individu bintang laut kadang terdapat lebih dari dua puluh individu parasit (KOCHZIUS et al dalam Arbi dan Vimono, 2010: 229).

Siput parasit ini menempel kuat pada permukaan luar tubuh bintang  laut biru (Linckia laevigata), dan bahkan pada beberapa kasus sering terlihat adanya lubang pada bagian tubuh bintang laut tersebut yang menjadi tempat melekat bagi siput ini. Penempelan siput pada sistem radial hemal dan perihemal pada bintang laut biru adalah dengan menggunakan proboscis untuk mendapatkan sari makanan dari inang.

Penempelan pada inangnya menunjukkan perilaku yang unik, yaitu tidak berpindah-pindah tempat penempelan, melainkan pada satu tempat dari umur juvenil sampai mati. Warna cangkang siput parasit ini biru, seperti warna inangnya, kemungkinan sebagai salah satu bentuk strategi untuk penyamaran dari mangsa alaminya (Arbi dan Vimono, 2010: 233)

7. Sea Lamprey dan Ikan








Sea lamprey “mengait” pada ikan menggunakan “gigi-giginya” untuk terus menempel pada ikan dan akan memarut kulit ikan sehingga menyebabkan luka terbuka pada ikan yang kemudian sebagai makanan bagi lamprey tersebut. Lamprey tidak membunuh inangnya, juga tidak menginang pada ikan tertentu saja, mereka akan mengait pada berbagai macam makhluk hidup lain dan mencoba “makan” dari organisme  tersebut.

2. Komensalisme

a) Karakteristik Komensalisme
Simbiosis yang menyebabkan yang satu diuntungkan dan yang lainnya tidak dirugikan. Dalam interaksi ini salah satu organisme tidak akan terusik dengan keberadaan organisme lainnya.

b) Contoh Simbiosis Komensalisme

 

1. Tanaman anggrek dan pohon tempat ia hidup

Bunga anggrek bisa menempel dan “numpang hidup” di pohon mangga misalnya, namun si anggrek mampu membuat makanannya sendiri sehingga ia sama sekali tidak merugikan pohon


2. Ikan hiu dan  ikan remora




Sementara itu pola hubungan ikan hiu dan remora juga terbilang unik sebab remora akan mendapatkan sisa makanan yang dikonsumsi oleh hiu dan hal tersebut sama sekali tidak merugikan si hiu.

3. Cattle Egret and hewan ternak





Hewan ternak yang memakan rumput, akan sekaligus menyibakkan serangga  yang  tersembunyi  di  rumput.  Burung  akan  mengikut   hewan ternak
tersebut, sehingga ketika hewan ternak makan maka serangga yang kemudian tersibak akan dimakan oleh burung. Sapi tidak dirugikan atau diuntungkan dengan keberadaan burung tersebut, sedangkan burung akan diuntungkan dengan adanya “perjamuan” makanan gratis”.

3. Mutualisme

a) Karakteristik Mutualisme
Mutualisme merupakan bentuk simbiosis dimana kedua spesies mendapatkan keuntungan, melalui simbiosis ini spesies dapat meningkatkan kemampuan mereka dalam bertahan dan berkembang. Pada bentuk hubungan mutualisme tertentu lebih kepada pengeksploitasian satu sama lain (Smith, Ecology & Field Biology).

Mutualisme kebanyakan terbentuk dan berkembang dari asosiasi yang negatif, seperti pemangsa. Pada dasarnya organisme yang berada pada lingkungan seperti ini memiliki dua pilihan: melarikan diri dari lingkungan tersebut atau beradaptasi. Sehingga terjadi hubungan antar organisme yang kemudian dapat membuat satu sama lain saling menguntungkan.

Mutualisme dapat ditemukan dengan beberapa fungsi, seperti: mutualisme sebagai hubungan untuk memperoleh nutrisi, mutualisme sebagai hubungan untuk perlindungan, mutualisme sebagai hubungan untuk membantu proses penyerbukan dan mutualisme yang berperan dalam proses mempertahankan diri.

 

b) Contoh simbiosis mutualisme

Beberapa contoh mutualisme yang sering ditemukan antara lain:

1. Lebah dan bunga



Lebah terbang dari bunga terjadi.

2. White-winged dove dan Saguaro Kaktus
Kaktus menyediakan makanan bagi burung dove dalam bentuk buah dari tanaman kaktus. Burung dove mengkonsumsi buah tersebut, kemudian terbang dan kemudian menjatuhkan biji tanaman kaktus di tempat yang baru, sehingga kaktus akan tumbuh ditempat baru tersebut.

3. Yucca plants and yucca moth
Sama halnya dengan serangga sebagai agen penyebar benih lainnya, ngengat membantu dalam perkembangbiakan tanaman yucca. Ngengat  biasa meletakkan telur pada tanaman yucca kemudian ketika larva ngengat menetas dan menjadi dewasa, benih tanaman yucca akan terbawa oleh ngengat, sehingga tanaman yucca bisa tumbuh di tempat lain.

4. Bakteri Rhizobium sp dan tanaman polong-polongan
Rhizobium (yang terkenal adalah Rhizobium leguminosarum) adalah basil yang gram negatif yang merupakan penghuni biasa didalam tanah. Bakteri ini masuk melalui bulu-bulu akar tanaman berbuah polongan dan menyebabkan jaringan agar tumbuh berlebih-lebihan hingga menjadi kutil- kutil. Rhizobium merupakan bakteri nitrogen, adalah bakteri yang mampu mengikat nitrogen bebas dari udara dan mengubahnya menjadi suatu senyawa yang dapat diserap oleh tumbuhan.

Akar tanaman polong-polongan tersebut menyediakan karbohidrat dan senyawa lain bagi bakteri melalui kemampuannya mengikat nitrogen bagi akar. Jika bakteri dipisahkan dari inangnya (akar), maka tidak dapat mengikat nitrogen sama sekali atau hanya dapat mengikat nitrogen sedikit sekali. Bintil-bintil akar melepaskan senyawa nitrogen organik ke dalam tanah tempat tanaman polong hidup. Dengan demikian terjadi penambahan nitrogen yang dapat menambah kesuburan tanah.

5. Ikan badut dan Anemon



Ikan badut pada anemon dapat membantu mengusir  ikan angle atau ikan butterfly yang biasanya memakan tentakel anemon. Selain itu, ikan badut dengan warnanya yang cerah dan menarik menjadi umpan bagi ikan- ikan kecil lain, agar anemon mudah menjerat dan menangkap mangsa. Keuntungan ikan badut adalah anemon dapat memberi perlindungan dari pemangsa alaminya. Anemon sebenarya mempunyai sengatan beracun yang mematikan, namun ikan badut mempunyai cara untuk bisa melindungi diri dari sengatan tantakel anemon tersebut.

Tentakel anemon dilapisi oleh lendir yang memiliki kandungan tertentu untuk melindunginya dari sengatan tentakel lain atau tersengat oleh tentakel sendiri. Lendir inilah yang dimanfaatkan oleh ikan badut untuk kemudian melindunginya dari sengatan tentakel anemon. Ikan badut dapat bertahan beberapa saat terhadap sengatan tentakel sebelum lumpuh, dengan cara menggosok-gosokkan badannya secara cepat pada tentakel ikan badut dapat melumuri seluruh tubuhnya dnegan lendir antisengat tentakel, sehingga ikan menjadi kebal.

6. Pohon Acacia dan semutnya









Pohon acacia terlindungi oleh semut yang hidup di pohon tersebut, semut akan membunuh dan memakan serangga dan merusak tanaman yang berusaha menyaingi tanaman acacia. Pohon acacia sendiri kemudian memberi 3 keuntungan bagi semut. Pertama duri besar pada pohon acacia berongga sehingga dapat memberikan tempat tinggal bagi semut. Kedua, pohon memiliki ‘kelenjar’ yang berisi “nectaries” yang memproduksi cairan gula sebagai minuman bagi semut. Ketiga, pohon acacia menghasilkan ‘Beltian’, yang merupakan struktur kecil dari tumbuhan tersebut yang kaya akan protein dan mengandung gula sehingga menjadi sumber makanan bagi semut.


7. Udang pembersih dan ikan
Udang pembersih (Lysmata amboinensis) berperan seperti  ‘dokter gigi’, udang tersebut mendapatkan makanan dari membersikan mulut ikan atau belut laut dari sisa-sisa makanan, jaringan mati, dan parasit. Sedangkan ikan akan mendapatkan keuntungan yaitu mulut mereka terbebas dari sisa- sisa makanan, jaringan mati, ataupun parasit yang ada di dalam mulut ikan.

Udang pembersih banyak ditemukan pada kedalaman sekitar 50-65 kaki, namun dapat ditemukan juga pada kedalaman 15 meter. Udang ini membentuk kelompok yang terdiri dari 20 lebih udang yang dapat membentuk sebuah ‘stasiun pembersihan’ di kedalaman 2-3 meter (6-9 kaki). Berbagai ukuran dari berbagai jenis ikan yang datang untuk mengunjungi stasiun pembersih untuk menghilangkan parasit yang menempel pada tubuhnya.

Ikan atau belut yang akan dibersihkan akan berdiam diri di atas karang membuka mulut dan insangnya ebar-lebar lalu udang ini mulai memakan sisa makanan, jaringan mati, dan parasit yang menempel pada tubuh ikan. Setelah membersihkan tubuh ikan, Lysmata akan masuk ke dalam rongga mulut ikan, mencapai hingga insang, membersihkannya lalu keluar.

8. Burung jalak-oxpeckers dan kerbau



Burung jalak memakan kutu yang ada pada tubuh kerbau, sehingga kerbau dapat terbebas dari parasit kutu dan burung jalak memperoleh makanan dari kerbau.

Share on Facebook
Share on Twitter
Share on Google+
Tags :

Related : Interaksi Mahluk Hidup ( Simbiosis )

Comments
0 Comments

0 komentar:

Post a Comment

Loading...
Loading...