Menopause ( Pengertian dan Faktor-faktor yang mempengaruhi Menopause ), Kesehatan reproduksi merupakan keadaan sehat secara menyeluruh, meliputi aspek fisik, mental, sosial, dan bukan hanya bebas dari penyakit yang berkaitan dengan sistem reproduksi dan fungsinya. Kesehatan reproduksi bukan hanya membahas masalah kehamilan atau persalinan, tetapi mencakup seluruh siklus kehidupan wanita yang salah satunya adalah masa menopause, yaitu suatu masa yang dimulai pada akhir masa reproduksi dan berakhir pada masa senium (lanjut usia), yaitu pada usia 40-65 tahun. Pada usia ini akan banyak muncul masalah kesehatan karena masalah kesehatan sangat erat kaitannya dengan peningkatan usia.
![]() |
Menopause ( Pengertian dan Faktor-faktor yang memperngaruhi Menopause ) |
A. Pengertian
Klimakterium Dan Menopause
1. Pengertian
klimakterium
Klimakterium adalah masa peralihan dalam
kehidupan normal seorang wanita sebelum mencapai senium, yang mulai dari akhir
masa reproduktif dari kehidupan sampai masa non-reproduktif.
Masa-masa klimakterium :
a. Pramenopause
adalah masa 4-5 tahun sebelum menopause, keluhan klimakterik sudah mulai
timbul, hormon estrogen masih dibentuk. Bila kadar estrogen menurun maka akan
terjadi perdarahan tak teratur.
b. Menopause
adalah henti haid yang terakhir yang terjadi dalam masa klimakterium dan hormon
estrogen tidak dibentuk lagi, jadi merupakan satu titik waktu dalam masa
tersebut. Umumnya terjadi pada umur 45-55 tahun.
c. Pascamenopause
adalah masa 3-5 tahun setelah menopause, dijumpai hiper-gonadotropin (FSH dan
LH), dan kadang-kadang hipertiroid
Sebelum haid berhenti, sebenarnya pada
seorang wanita terjadi berbagai perubahan dan penurunan fungsi pada ovarium
seperti sklerosis pembuluh darah, berkurangnya jumlah folikel dan menurunnya sintesis
steroid seks, penurunan sekresi estrogen, gangguan umpan balik pada hipofise. Penurunan
fungsi ovarium menyebabkan berkurangnya kemampuan ovarium untuk menjawab
rangsangan gonadotropin, sehingga terganggunya interaksi antara hipotalamus –
hipofise. Pertama-tama terjadi kegagalan fungsi luteum . Kemudian turunnya
fungsi steroid ovarium menyebabkan berkurangnya reaksi umpan balik negatif
terhadap hipotalamus. Keadaan ini meningkatkan produksi FSH dan LH. Dari kedua
gonadoropin itu, ternyata yang paling mencolok peningkatannya adalah FSH.
Klimakterium bukan suatu keadaan patologik,
melainkan suatu masa peralihan yang normal, yang berlangsung beberapa tahun
sebelum dan beberapa tahun sesudah menopause. Kesulitan mungkin dijumpai dalam
menentukan awal dan akhir klimakterium, tetapi dapat dikatakan bahwa
klimakterium mulai kira-kira 6 tahun sebelum menopause berdasarkan
endokrinologik (kadar estrogen mulai turun dan kadar hormone gonadotropin
naik), dan gejala-gejala klinis.
Secara endokrinologis, masa klimakterium
ditandai oleh turunnya kadar estrogen dan meningkatnya pengeluaran
gonadotropin. Gambaran klinis dari defesiensi estrogen dapat berupa gangguan
siklus haid, gangguan neurovegetatif, gangguan psikis dan gangguan somatic.
2. Pengertian menopause
Menopause adalah haid terakhir pada wanita,
yang juga sering diartikan sebagai berakhirnya fungsi reproduksi seorang
wanita. Oleh karena itu, tidak jarang seorang wanita takut menghadapi saat
menopausenya. Kehidupan menjelang dan setelah menopause inilah yang sering
disebut sebagai ‘masa senja’ atau masa klimakterium.
Sebenarnya menopause bukan merupakan masalah
patologis tetapi merupakan masalah fisiologis yang dialami setiap wanita di
dunia tetapi sangat mengganggu kebahagiaan sebuah keluarga dan wanita itu sendiri.
Di dalam pengalaman hidupnya, seorang wanita akan mengalami perubahan-perubahan
alamiah ini. Namun proses alamiah ini berbeda pada setiap wanita menopause. Ada
yang melewatinya tanpa merasa terganggu, namun sebagian besar wanita menopause
melalui perubahan alamiah ini dengan cobaan yang berat, gangguan fisik dan
tekanan psikis yang menekan. Hal ini disebabkan karena berhentinya produksi
estrogen dan menurunnya daya tahan tubuh seiring dengan bertambahnya usia.
Penyebab menopause adalah matinya (burning
out) ovarium. Pada usia sekitar 45 tahun, hanya tinggal beberapa folikel
primordial yang akan dirangsang oleh LH dan FSH dan produksi estrogen dari
ovarium berkurang sewaktu jumlah folikel primordial mencapai nol. Ketika
produksi estrogen turun dibawah nilai kritis, estrogen tidak lagi dapat
menghambat produksi dari FSH dan LH, juga tidak dapat merangsang lonjakan LH
dan FSH ovulasi untuk menimbulkan siklus osilasi. Sebaliknya, FSH dan LH
(terutama FSH) diproduksi sesudah menopause dalam jumlah besar dan kontinyu.
Estrogen diproduksi dalam jumlah di bawah nilai kritis untuk jangka waktu yang
singkat sesudah menopause, tetapi setelah beberapa tahun, ketika folikel
primordial yang tersisa menjadi atretik, produksi estrogen oleh ovarium turun
menjadi hampir nol.
Pada saat menopause, seorang wanita harus
menyesuaikan kembali kehidupannya dari kehidupan yang secara fisiologis
dirangsang oleh produksi estrogen dan progesterone menjadi kehidupan yang
kosong tanpa hormone-hormon tersebut.
B. Perubahan Yang
Terjadi Pada Masa Klimakterium Dan Menopause
1. Perubahan hormone
Dua hingga delapan tahun sebelum menopause,
kebanyakan wanita mulai melompat-lompat ovulasinya. Selama tahun-tahun
tersebut, folikel indung telur (kantung indung telur), yang mematangkan telur
setiap bulan, akan mengalami tingkat kerusakan yang semakin cepat hingga
pasokan folikel itu akhirnya habis. Penelitian menunjukkan bahwa percepatan
rusaknya folikel ini dimulai sekitar usia tiga puluh tujuh atau tiga puluh
delapan. Inhibin, zat yang dihasilkan dalam indung telur, juga semakin
berkurang sehingga mengakibatkan meningkatnya kadar FSH (Follicle Stimulating
Hormone - hormon perangsang folikel yang dihasilkan hipofise).
Bertolak belakang dengan keyakinan umum,
kadar estrogen perempuan sering relatif stabil atau bahkan meningkat di masa
pra-menopause. Kadar itu tidak bekurang selama kurang dari satu tahun sebelum
periode menstruasi terakhir. Sebelum menopause, estrogen utama yang dihasilkan
tubuh seorang wanita adalah estradiol. Namun selama pra-menopause, tubuh wanita
mulai menghasilkan lebih banyak estrogen dari jenis yang berbeda, yang
dinamakan estron, yang dihasilkan di dalam indung telur maupun dalam lemak
tubuh.
Kadar testoteron biasanya tidak turun secara
nyata selama pra-menopause. Kenyataannya, indung telur pasca-menopause dari
kebanyakan wanita (tetapi tidak semua wanita) mengeluarkan testoteron lebih
banyak daripada indung telur pra-menopause. Sebaliknya, kadar progesteron
benar-benar mulai menurun selama pra-menopause, bahkan jauh sebelum terjadinya
perubahan-perubahan pada estrogen atau testoteron dan ini merupakan hal yang
paling penting bagi kebanyakan wanita.
Meskipun reproduksi tidak lagi merupakan tujuan, hormon-hormon reproduksi tetap memegang peran yang penting, yaitu peran-peran yang dapat meningkatkan kesehatan dan tidak ada kaitannya dengan melahirkan bayi. Hal ini dapat dilihat dalam kenyataan bahwa reseptor hormon steroid terdapat dalam hampir semua organ tubuh perempuan. Estrogen dan androgen (seperti halnya testoteron) adalah penting, misalnya untuk mempertahankan tulang yang kuat dan sehat serta jaringan vagina dan saluran kencing yang lentur. Baik estrogen maupun progesteron sama-sama penting untuk mempertahankan lapisan kolagen yang sehat pada kulit.
Meskipun reproduksi tidak lagi merupakan tujuan, hormon-hormon reproduksi tetap memegang peran yang penting, yaitu peran-peran yang dapat meningkatkan kesehatan dan tidak ada kaitannya dengan melahirkan bayi. Hal ini dapat dilihat dalam kenyataan bahwa reseptor hormon steroid terdapat dalam hampir semua organ tubuh perempuan. Estrogen dan androgen (seperti halnya testoteron) adalah penting, misalnya untuk mempertahankan tulang yang kuat dan sehat serta jaringan vagina dan saluran kencing yang lentur. Baik estrogen maupun progesteron sama-sama penting untuk mempertahankan lapisan kolagen yang sehat pada kulit.
2. Perubahan
fisik
a.
Uterus (kandungan) : mengecil.
b.
Tuba Falopi : lipatan tuba menjadi memendek,
menipis dan mengerut.
c.
Ovarium (indung telur) : ovarium menciut,
terjadi penurunan fungsi ovarium untuk menghasilkan hormon estrogen dan
progesterone, berhenti menghasilkan sel telur. Akibatnya timbul keluhan akibat
berkurangnya kadar hormon.
d.
Cervix (leher rahim) : mengerut.
e.
Vagina : terjadi penipisan dinding vagina,
selain itu secret/lendir vagina mulai mengering, menyulitkan hubungan
suami-istri.
f.
Vulva (bibir rahim) : jaringan vulva menipis
karena berkurangnya jaringan lemak, kulit menipis, pebuluh darah berkurang.
Akibat sering timbul rasa gatal. Vulva yang mengering bersamaan dengan
penyempitan lubang masuk vagina menyebabkan kesulitan untuk melakukan hubungan
suami istri, timbul rasa nyeri pada waktu hubungan, menyebabkan wanita
berusaha untuk menolak melayani suaminya.
g.
Rambut kemaluan pada wanita mulai menipis,
sebagian rontok dan mulai memutih/uban.
h.
Payudara : jarigan lemak berkurang, putting
susu mengecil. Akibatnya payudara mulai lembek, mengendor dan keriput.
i.
Hipertensi : turunnya hormon estrogen dan
progesteron menyebabkan :
a.
HDL Cholesterol (Cholesterol baik) menurun.
b.
LDL Cholesterol (Cholesterol jahat) meningkat
. Wanita yang semasa haid masih relatif kebal terhadap penyakit aterosklerosis
(perkapuran dinding pembuluh darah), setelah menapause mulai bisa diserang
penyakit ini, yang berakibat penyakit tekanan darah tinggi (hipertensi) dan
penyempitan pembuluh darah jantung (penyakit jantung coroner).
j.
Osteoporosi (pengeroposan
tulang). Dengan turunnya kadar hormon estrogen dan progesteron, maka mulai
terjadi proses pengeroposan tulang (walaupun seorang wanita cukup mendapat
tambahan calcium seperti dari susu). Rendahnya kadar hormon estrogen dan
progesteron menyebabkan zat calcium/kapur tidak dapat disimpan dalam tulang,
sebaliknya calcium dalam tulang pelan-pelan menyusut. Tandanya
adalah mulai terasa nyeri pada tulang yang dianggap sebagai rematik yang bila
berobat acap kali hanya mendapat obat penghilang rasa nyeri. Bila proses
pengeroposan sudah sangat lanjut bisa terjadi patah tulang belakang dan tulang
panggul secara spontan
C. Permasalahan Kesehatan Repsoduksi
Pada Masa Menopause
1.
Fisik
Ketika seseorang memasuki masa menopause,
fisik mengalami ketidaknyamanan seperti rasa kaku dan linu yang dapat terjadi
secara tiba-tiba di sekujur tubuh, misalnya pada kepala, leher dan dada bagian
atas. Kadang-kadang rasa kaku ini dapat diikuti dengan rasa panas atau dingin,
pening, kelelahan, jengkel, resah, cepat marah, dan berdebar-debar (Hurlock,
1992).
Beberapa keluhan fisik yang merupakan
tanda dan gejala dari menopause yaitu:
a. Ketidakteraturan Siklus Haid
Tanda paling umum adalah fluktuasi dalam
siklus haid, kadang kala haid muncul tepat waktu, tetapi tidak pada siklus
berikutnya. Ketidakteraturan ini sering disertai dengan jumlah darah yang
sangat banyak, tidak seperti volume pendarahan haid yang normal. Keadaan ini
sering mengesalkan wanita karena ia harus beberapa kali mengganti pembalut yang
dipakainya. Normalnya haid akan berakhir setelah tiga sampai empat hari, namun
pada keadaan ini haid baru dapat berakhir setelah satu minggu atau lebih.
b. Gejolak Rasa Panas
Arus panas biasanya timbul pada saat darah
haid mulai berkurang dan berlangsung sampai haid benar-benar berhenti. Sheldon
H.C (dalam Rosetta Reitz, 1979) mengatakan “ kira-kira 60% wanita mengalami
arus panas”. Arus panas ini disertai oleh rasa menggelitik disekitar jari-jari,
kaki maupun tangan serta pada kepala, atau bahkan timbul secara menyeluruh.
Munculnya hot flashes ini sering diawali pada daerah dada, leher atau wajah dan
menjalar ke beberapa daerah tubuh yang lain. Hal ini berlangsung selama dua
sampai tiga menit yang disertai pula oleh keringat yang banyak. Ketika terjadi
pada malam hari, keringat ini dapat menggangu tidur dan bila hal ini sering
terjadi akan menimbulkan rasa letih yang serius bahkan menjadi depresi.
c. Kekeringan Vagina
Kekeringan vagina terjadi karena leher rahim
sedikit sekali mensekresikan lendir. Penyebabnya adalah kekurangan estrogen
yang menyebabkan liang vagina menjadi lebih tipis, lebih kering dan kurang
elastis. Alat kelamin mulai mengerut, Liang senggama kering sehingga
menimbulkan nyeri pada saat senggama, keputihan, rasa sakit pada saat kencing.
Keadaan ini membuat hubungan seksual akan terasa sakit. Keadaan ini sering kali
menimbulkan keluhan pada wanita bahwa frekuensi buang air kecilnya meningkat
dan tidak dapat menahan kencing terutama pada saat batuk, bersin, tertawa atau
orgasme.
d. Perubahan Kulit
Estrogen berperan dalam menjaga elastisitas
kulit, ketika menstruasi berhenti maka kulit akan terasa lebih tipis, kurang
elastis terutama pada daerah sekitar wajah, leher dan lengan. Kulit di bagian
bawah mata menjadi mengembung seperti kantong, dan lingkaran hitam dibagian ini
menjadi lebih permanen dan jelas (Hurlock, 1992)
e. Keringat di Malam Hari
Berkeringat malam hari, bangun
bersimbah peluh. Sehingga perlu mengganti pakaian dimalam hari. Berkeringat
malam hari tidak saja menggangu tidur melainkan juga teman atau pasangan tidur.
Akibatnya diantara keduanya merasa lelah dan lebih mudah tersinggung, karena
tidak dapat tidur nyenyak.
f. Sulit Tidur
Insomnia (sulit tidur) lazim terjadi pada
waktu menopause, tetapi hal ini mungkin ada kaitannya dengan rasa tegang akibat
berkeringat malam hari, wajah memerah dan perubahan yang lain.
g. Perubahan Pada Mulut
Pada saat ini kemampuan mengecap pada wanita
berubah menjadi kurang peka, sementara yang lain mengalami gangguan gusi dan
gigi menjadi lebih mudah tanggal.
h. Kerapuhan Tulang
Rendahnya kadar estrogen merupakan penyebab
proses osteoporosis (kerapuhan tulang). Osteoporosis merupakan penyakit
kerangka yang paling umum dan merupakan persoalan bagi yang telah berumur,
paling banyak menyerang wanita yang telah menopause. Biasanya kita kehilangan
1% tulang dalam setahun akibat proses penuaan (mungkin ini yang menyebabkan
nyeri persendian), tetapi kadang setelah menopause kita kehilangan 2%
setahunnya. John Hutton (1984:35) memperkirakan sekitar 25% wanita kehilangan
tulang lebih cepat daripada proses menua. Menurunnya kadar estrogen akan
diikuti dengan penurunan penyerapan kalsium yang terdapat dalam makanan.
Kekurangan kalsium ini oleh tubuh diatasi dengan menyerap kembali kalsium yang
terdapat dalam tulang, dan akibatnya tulang menjadi keropos dan rapuh.
i. Badan Menjadi Gemuk
Banyak wanita yang menjadi gemuk selama
menopause. Rasa letih yang biasanya dialami pada masa menopause, diperburuk
dengan perilaku makan yang sembarangan. Banyak wanita yang bertambah berat
badannya pada masa menopause, hal ini disebabkan oleh faktor makanan ditambah
lagi karena kurang berolahraga.
j.
Penyakit
Ada beberapa penyakit yang seringkali dialami
oleh wanita menopause. Dari sudut pandang medik ada 2 (dua) perubahan paling
penting yang terjadi pada waktu menopause yaitu meningkatnya kemungkinan
terjadi penyakit jantung, pembuluh darah serta hilangnya mineral dan protein di
dalam tulang (osteoporosis). Penyakit jantung dan pembuluh darah dapat
menimbulkan gangguan seperti stroke atau serangan jantung. Selain itu penyakit
kanker juga lebih sering terjadi pada orang yang berusia lanjut. Semakin
lama kehidupan maka semakin besar kemungkinan penyakit itu menyerang.
Misalnya kanker payudara, kanker rahim dan kanker ovarium. Kanker payudara
lebih umum terjadi pada wanita yang telah melampaui masa menopause.
Kanker rahim adalah istilah luas untuk kanker
yang terjadi di rahim, ada dua bagian rahim yang dapat menjadi tempat bermulanya
kanker. Yang pertama adalah serviks, kanker ini terutama berjangkit pada wanita
berusia diatas 30 tahun. Gejala yang harus diperhatikan adalah pendarahan
vagina setelah persetubuhan, pergetahan vagina yang tidak biasa dan noda
diantara haid. Sementara kanker indometrium (kanker tubuh rahim) terutama
menjangkiti wanita diatas usia 45 tahun, yang paling menanggung resiko adalah
yang pernah mendapat haid agak lambat, dan yang mempunyai kombinasi antara
tekanan darah tinggi, diabetes, dan berat tubuh berlebih. Gejalanya adalah
pendarahan tak normal, pendarahan antara haid, keluaran darah yang lebih lama
atau lebih kental dibandingkan biasanya, dan pendarahan haid terakhir dalam
menopause.
2. Masalah Psikologis
Aspek psikologis yang terjadi pada lansia
atau wanita menopause amat penting peranan dalam kehidupan sosial lansia
terutama dalam menghadapi masalah-masalah yang berkaitan dengan pensiun;
hilangnya jabatan atau pekerjaan yang sebelumnya sangat menjadi kebanggaan sang
lansia tersebut. Berbicara tentang aspek psikologis lansia dalam pendekatan
eklektik holistik, sebenarnya tidak dapat dipisahkan antara aspek
organ-biologis, psikologis, sosial, budaya dan spiritual dalam kehidupan
lansia.
Beberapa gejala psikologis yang menonjol
ketika menopause adalah mudah tersinggung, sukar tidur, tertekan, gugup,
kesepian, tidak sabar, tegang (tension), cemas dan depresi. Ada juga lansia
yang kehilangan harga diri karena menurunnya daya tarik fisik dan seksual,
mereka merasa tidak dibutuhkan oleh suami dan anak-anak mereka, serta merasa
kehilangan femininitas karena fungsi reproduksi yang hilang.
Beberapa keluhan psikologis yang merupakan
tanda dan gejala dari menopause yaitu:
a. Ingatan Menurun
Gelaja ini terlihat bahwa sebelum menopause
wanita dapat mengingat dengan mudah, namun sesudah mengalami menopause terjadi
kemunduran dalam mengingat, bahkan sering lupa pada hal-hal yang sederhana,
padahal sebelumnya secara otomatis langsung ingat.
b. Kecemasan
Banyak ibu-ibu yang mengeluh bahwa setelah
menopause dan lansia merasa menjadi pencemas. Kecemasan yang timbul
sering dihubungkan dengan adanya kekhawatiran dalam menghadapi situasi yang
sebelumnya tidak pernah dikhawatirkan. Misalnya kalau dulu biasa pergi
sendirian ke luar kota sendiri, namun sekarang merasa cemas dan khawatir, hal
itu sering juga diperkuat oleh larangan dari ana-anaknya. Kecemasan pada
Ibu-ibu lansia yang telah menopause umumnya bersifat relatif, artinya ada orang
yang cemas dan dapat tenang kembali, setelah mendapatkan semangat/dukungan
dari ornag di sekitarnya; namun ada juga yang terus-menerus cemas, meskipun
orang-orang disekitarnya telah memberi dukungan. Akan tetapi banyak juga
ibu-ibu yang mengalami menopause namun tidak mengalami perubahan yang berarti
dalam kehidupannya.
Menopause rupanya mirip atau sama juga dengan
masa pubertas yang dialami seorang remaja sebagai awal berfungsinya alat-alat
reproduksi, dimana ada remaja yang cemas, ada yang khawatir namun ada juga yang
biasa-biasa sehingga tidak menimbulkan gejolak.
Adapun simtom-simtom psikologis adanya
kecemasan bila ditinjau dari beberapa aspek, menurut Blackburn and Davidson
(1990 :9) adalah sebagai berikut :
1.
Suasana hati yaitu keadaan yang menunjukkan
ketidaktenangan psikis, seperti: mudah marah, perasaan sangat tegang.
2.
Pikiran yaitu keadaan pikiran yang tidak
menentu, seperti: khawatir, sukar konsentrasi, pikiran kosong,
membesar-besarkan ancaman, memandang diri sebagai sangat sensitif, merasa tidak
berdaya.
3.
Motivasi yaitu dorongan untuk mencapai
sesuatu, seperti : menghindari situasi, ketergantungan yang tinggi, ingin
melarikan diri, lari dari kenyataan.
4.
Perilaku gelisah yaitu keadaan diri yang
tidak terkendali seperti : gugup, kewaspadaan yang berlebihan, sangat sensitif
dan agitasi.
5.
Reaksi-reaksi biologis yang tidak terkendali,
seperti : berkeringat, gemetar, pusing, berdebar-debar, mual, mulut kering.
Gangguan kecemasan dianggap berasal dari
suatu mekanisme pertahanann diri yang dipilih secara alamiah oleh makhluk hidup
bila menghadapi sesuatu yang mengancam dan berbahaya. Kecemasan yang dialami
dalam situasi semacam itu memberi isyarat kepada makhluk hidup agar melakukan
tindakan mempertahankan diri untuk menghindari atau mengurangi bahaya atau
ancaman.
Menjadi cemas pada tingkat tertentu dapat
dianggap sebagai bagian dari respon normal untuk mengatasi masalah sehari-hari.
Bagaimana juga, bila kecemasan ini berlebihan dan tidak sebanding dengan suatu
situasi, hal itu dianggap sebagai hambatan dan dikenal sebagai masalah
klinis.
c. Mudah Tersinggug
Gejala ini lebih mudah terlihat dibandingkan
kecemasan. Wanita lebih mudah tersinggung dan marah terhadap sesuatu yang
sebelumnya dianggap tidak menggangu. Ini mungkin disebabkan dengan datangnya
menopause maka wanita menjadi sangat menyadari proses mana yang sedang
berlangsung dalam dirinya. Perasaannya menjadi sangat sensitif terhadap sikap
dan perilaku orang-orang di sekitarnya, terutama jika sikap dan perilaku
tersebut dipersepsikan sebagai menyinggung proses penerimaan yang sedang
terjadi dalam dirinya.
d. Stress
Tidak ada orang yang bisa lepas sama sekali
dari rasa was-was dan cemas, termasuk para lansia menopause. Ketegangan
perasaan atau stress selalu beredar dalam lingkungan pekerjaan, pergaulan
sosial, kehidupan rumah tangga dan bahkan menyelusup ke dalam tidur. Kalau
tidak ditanggulangi stress dapat menyita energi, mengurangi produktivitas kerja
dan menurunkan kekebalan terhadap penyakit, artinya kalau dibiarkan dapat
menggerogoti tubuh secara diam-diam.
Namun demikian stress tidak hanya memberikan dampak
negatif, tapi bisa juga memberikan dampak positif. Apakah kemudian dampak itu
positif atau negatif, tergantung pada bagaimana individu memandang dan
mengendalikannya. Stress adalah suatu keadaan atau tantangan yang kapasitasnya
diluar kemampuan seseorang oleh karena itu, stress sangat individual sifatnya.
Respon orang terhadap sumber stress sangat
beragam, suatu rentang waktu bisa tiba-tiba jadi pencetus stress yang temporer.
Stress dapat juga bersifat kronis misalnya konflik keluarga. Reaksi kita terhadap
pencetus stress dapat digolongkan dalam dua kategori psikologis dan fisiologis.
Di tingkat psikologis, respon orang terhadap sumber stress tidak bisa
diramalkan, sebagaimana perbedaan suasana hati dan emosi kita dapat menimbulkan
beragam reaksi, mulai dari hanya ekspresi marah sampai akhirnya ke hal-hal lain
yang lebih sulit untuk dikendalikan. Di tingkat psikologis, respon orang
terhadap sumber stress ini tergantung pada beberapa faktor, termasuk keadaan
emosi pada saat itu dan sikap orang itu dalam menanggapi stress tersebut.
e. Depresi
Dari penelitian-penelitian yang dilakukan di
Amerika Serikat dan Eropa diperkirakan 9% s/d 26% wanita dan 5% s/d 12% pria
pernah menderita penyakit depresi yang gawat di dalam kehidupan mereka. Setiap
saat, diperkirakan bahwa 4,5% s/d 9,3% wanita dan 2,3% s/d 3,2% pria akan
menderita karena gangguan ini. Dengan demikian secara kasar dapat dikatakan
bahwa wanita dua kali lebih besar kemungkinan akan menderita depresi daripada
pria.
Wanita yang mengalami depresi sering merasa
sedih, karena kehilangan kemampuan untuk bereproduksi, sedih karena kehilangan
kesempatan untuk memiliki anak, sedih karena kehilangan daya tarik. Wanita
merasa tertekan karena kehilangan seluruh perannya sebagai wanita dan harus
menghadapi masa tuanya. Depresi dapat menyerang wanita untuk satu kali,
kadang-kadang depresi merupakan respon terhadap perubahan sosial dan fisik yang
sering kali dialami dalam fase kehidupan tertentu, akan tetapi beberapa wanita
mungkin mengembangkan rasa depresi yang dalam yang tidak sesuai atau
proporsional dengan lingkungan pribadi mereka dan mungkin sulit dihindarkan.
1.
Simton-simton psikologis adanya depresi bila
ditinjau dari beberapa aspek, menurut Marie Blakburn dan Kate Davidson (1990:5)
adalah sebagai berikut :
2.
Suasana hati, ditandai dengan kesedihan,
kecemasan, mudah marah.
3.
Berpikir, ditandai dengan mudah hilang
konsentrasi, lambat dan kacau dalam berpikir, menyalahkan diri sendiri,
ragu-ragu, harga diri rendah.
4.
Motivasi, ditandai dengan kurang minat
bekerja dan menekuni hobi, menghindari kegiatan kerja dan sosial, ingin
melarikan diri, ketergantungan tinggi pada orang lain.
5.
Perilaku gelisah terlihat dari gerakan yang
lamban, sering mondar-mandir, menangis, mengeluh.
6.
Sintom biologis, ditandai dengan hilang nafsu
makan atau nafsu makan bertambah, hilang hasrat sesksual, tidur
terganggu, gelisah.
Mungkin masih ada gejala-gejala fisik maupun
psikologis lain yang menyertai menopause. Gejala-gejala tersebut diatas sangat
perlu dipahami supaya tidak terjadi kesalahpahaman dalam memperlakukan para
lansia. Dengan memahami gejala tersebut diharapkan lansia dapat mengerti apa
yang sedang terjadi dalam diri mereka. Selain itu pihak keluarga pun diharapkan
dapat merespon secara tepat sehingga tidak membuat lansia merasa dikucilkan
atau disia-siakan.
D. Upaya Mengatasi
Masalah Pada Masa Menopause
Bagaimana bidan menghadapi masalah
klimaterium di tengah masyarakat. Seperti dikemukakan bahwa hanya sekitar 25 %
wanita mengeluh karena terjadi penurunan estrogen tubuh dan memerlukan tambahan
hormon sebagai substitusi.
Pemberian substitusihormon tanpa diikuti
pengawasan ketat adalah berbahaya, karena bidan dapat mengambil langkah :
1.
Melakukan KIEM sehingga wanita denngan
keluhan menopause dapat memeriksakan diri ke dokter puskesmas
2.
Bidan berkonsultasi dengandokter puskesmas
atau dokter ahli
3.
Setelah pengobatan, bidan dapatmeneruskan
pengawasan
4.
Bidan dapat merujuk penderita keRumah Sakit
5.
Pemeriksaan alat kelamin wanita bagian luar,
liang rahim, dan leher rahim untuk melihat kelainan yang mungkin ada seperti
lecet, keputihan, benjolan atau tanda radang
6.
Pap Smear yang dilakukan setahun sekali untuk
melihat adanya tanda radang dan deteksi awal bagi kemungkinan adanya kanker
pada saluran reproduksi.
7.
Periksa payudara sendiri (SADARI) untuk
melihat pembesaran atau tumor payudara akibat penurunan kadar estrogen/karena
adanya hormon pengganti
8.
Penggunaan bahan makanan yang mengandung
unsure fito-estrogen yang cukup seperti kedelai dan papaya
9.
Penggunaan bahan makanan sumber kalsium
seperti susu, keju, ikan teri, dll
10. Menghindari
makanan yang mengandung banyak lemak, kopi dan alcohol
DAFTAR PUSTAKA
1. Kasdu,
D. (2003). Kiat sehat dan bahagia di usia menopause. Jakrta: Puspa Swara
2. Mukminah,
A., Sungkono, dkk. (2003). Pengetahuan, sikap dan perilaku perempuan
pascamenopause di kota Malang terhadap menopause (studi kualitatif). Majalah
Obstetri dan Ginekologi.27 (1),73
3. Depkes
(2001). Kesehatan reproduksi. Jakarta: Depkes
4. Erika.
(2004) Faktor-faktor yang berhubungan dengan konsep diri perempuan pada masa
klimakterium di kelurahan Harjosari Pekanbaru. Jakarta: Thesis
5. Pakasi.
(2006). Menopause: masalah dan penanggulangannya. Jakarta: FK-UI